Aku seorang ibu rumah tangga, namaku Ibu Rika. Umurku sekitar 50 tahunan, kulitku sawo matang, tinggi tubuhku sekitar 160 cm, payudaraku berukuran 36B masih tampak kencang dengan puting berwwarna kecoklatan, pinggulku bahenol dan kencang, pantatku padat, berisi dan montok. Sehari-hari di rumah aku sering mengenakan pakaian lengan panjang bermotif terusan hingga ke ujung kaki (Gamis) serta berjilbab.
Pak Rudy adalah seorang agen perusahaan asuransi tempat dimana keluarga kami menjadi kliennya. Ia baru tiga kali datang ke rumahku untuk keperluan menagih premi asuransi. Biasanya yang menagih premi asuransi adalah Bu Sri dan 2 bulan yang lalu beliau memperkenalkan Pak Rudy sebagai penggantinya. Dia adalah seorang pria berusia sekitar 30 tahunan, tinggi badan sekitar 170 cm an dan memiliki tubuh yang atletis. Sebelum bekerja sebagai agen asuransi, Pak Rudy adalah seorang pemain Bola Volley yang handal di daerahnya. Tak heran kalau bentuk tubuhnya masih terlihat atletis dan bisa membuat wanita kesepian seperti aku mabuk kepayang. Pada awalnya kedatangan Pak Rudy layaknya seorang agen asuransi biasa, ngobrol tentang asuransi sebentar dan setelah kubayar premi asuransi beliau langsung pamit. Tapi pada kedatangan yang ketiga ke rumahku, jalan ceritanya menjadi hal yang tidak biasa dan menjadi kenangan paling indah dan sensasional.
Pada suatu hari aku sedang di rumah sendirian, setelah suamiku berangkat ke kantor dan anakku pergi ke sekolah. Saat itu aku hanya memakai daster lengan pendek dengan belahan dada sedikit rendah sehingga buah dadaku agak tersembul keluar terutama kalau sedang menunduk. Saat sedang asyik nonton TV tiba-tiba terdengar bel berbunyi, kulihat dari jendela ternyata Pak Rudy yang datang, pasti dia mau menagih premi asuransi karena ini memang sudah waktunya kami membayar. Kubukakan pagar dan kupersilakan dia masuk.
“Silakan Pak duduk dulu ya, sambil nunggu saya ambil uangnya” senyumku dengan ramah sambil mempersilakannya duduk di ruang tamu.
“Kok sepi sekali ya Bu, pada kemana yang lain?”
“Biasalah Pak Rudy, kalau hari kerja, ya anak-anak kan sekolah dan bapaknya anak-anak juga biasanya pulangnya sore”
“Ooohh....” Pak Rudy tersenyum manis sambil matanya sekilas menatap ke arahku.
“Sebentar ya Pak, saya ambil uangnya dulu” untuk mengalihkan perhatian.
“Silahkan Bu.....” Jawab Pak Rudy dengan tetap memberikan senyum manisnya dan tatapan matanya yang agak nakal saat itu.
Setelah ku ambil uang di kamar dan balik ke dapur untuk membuatkan minuman. Tak lama kemudian aku kembali ke ruang tamu.
“Mari diminum air-nya Pak!”, tawarku lalu aku duduk di depannya dengan menyilangkan kaki kananku sehingga pahaku tampak terlihat.
Suasana mesum mulai terasa di ruang tamuku, mata nakalnya terus memandang ke arah buah dadaku.
“Bu Rika kelihatannya capek sekali.....” tanya pak Rudy sambil matanya menatap wajahku dengan lembut.
“Iya nih Pak, biasa kan ibu rumah tangga mengurusi rumah...." kataku.
"Bu Rika, mau saya pijat....kebetulan saya bisa memijat....tuh kalau Bu Rika mau....." kata Pak Rudy.
"Emang nggak keberatan Pak...." kataku.
Tanpa diminta lagi dia segera bangkit berdiri dan pindah ke sebelahku, waktu berdiri kuperhatikan ia melihat buah dadaku yang menonjol dari balik dasterku, juga kulihat penisnya mengencang dibalik celananya yang membuatku tidak sabar ingin rasanya mengenggam benda itu.
“Mari Bu, kesinikan kakinya biar saya pijat” katanya.
Aku lalu mengubah posisi dudukku menjadi menyamping dan menjulurkan kakiku ke arahnya. Pak Rudy menyingkap sedikit bagian bawah dasterku dan tak lama kemudian Pak Rudy mulai mengurut paha hingga betisku. Pijatannya benar-benar enak, telapak tangannya yang kasar itu membelai pahaku hingga mulai membangkitkan birahiku dan tanpa kusadari akupun mulai mendesah-desah sambil menggigit bibir bawahku.
Melihat aku mendesah, dia semakin berani mengelus paha dalamku bahkan menyentuh pangkal pahaku dan meremasnya. Kurasakan jari-jarinya mengelusi bagian paling sensitive dari tubuhku. Lama kelamaan tubuhku makin menggelinjang-gelinjang sehingga nafsu Rudy pun semakin naik dan tidak terbendung lagi. Dasterku ditariknya secara perlahan sambil matanya menatap mataku untuk meminta ijin dan akupun kedipkan 2 mataku dengan senyum lembut tanda kepasrahan. Tak lama kemudian akupun sudah telanjang bulat di depan Pak Rudy. Melihat reaksiku yang malu-malu kucing ini dia makin gemas saja, Pak Rudy tertegun beberapa saat memandangiku yang sudah bugil bagian bawahnya itu.
“Tubuh Ibu memang sempurna, apalagi bagian bawah ini, benar-benar luar biasa......” sambil tangannya mulai meraba dan mengelus lembut di bagian paling nikmat ini.
Tak lama kemudian Pak Rudy menutup dan mengunci pintu rumahku, selang beberapa detik Pak Rudy kembali menghampiriku dan mulai melepas kemejanya sehingga aku dapat melihat perutnya yang rata dan berotot serta dadanya yang berbulu itu. Lalu dia membuka sabuk dan celananya sehingga benda dibaliknya kini dapat mengacung dengan gagah dan tegak. Aku menatap takjub pada organ tubuh itu, begitu besar dan berurat akupun sudah tidak sabar lagi menggenggam dan mengulumnya. Lalu Pak Rudy membuka pahaku dan membenamkan kepalanya diselangkanganku.
“Hhmm.. wangi, pasti Bu Rika rajin merawat diri yah....” godanya waktu menghirup kemaluanku.
Sesaat kemudian kurasakan benda yang lunak dan basah menggelitik vaginaku, lidahnya mulai menjilati klitorisku, terkadang menyeruak ke dalam menjilati dinding kemaluanku. Lidah tebal dan kumis tipisnya itu terasa menggelitik bagiku, aku merasa benar-benar kegelian sehingga mendesah tak tertahan sambil meremasi rambutnya. Kedua tangannya meremas kedua payudaraku secara bergantian dan jarinya memencet putingku dan memelintirnya hingga putingku terasa makin mengeras.
“Paakk.....Saya.....mau.....kulum penis Bapak.....ooohhh.....” desahku tak tahan lagi ingin mengulum penis itu.
“Kalau begitu saya di bawah saja ya Bu....” katanya sambil mengatur posisi kami sedemikian rupa menjadi gaya 69.
Aku naik ke wajahnya dan membungkukkan tubuhku, kuraih benda kesukaanku itu dalam genggamanku kukocok perlahan sambil menjilatinya. Kugerakkan lidahku menelusuri pelosok batang itu. Batang itu begitu panjang dan besar berdiameter lebar persis seperti tubuh pemiliknya, sehingga akupun harus membuka mulutku selebar-lebarnya agar bisa mamasukkannya. Akupun mulai mengisapnya dan memijati batang penisnya dengan tanganku. Pak Rudy mendesah-desah keenakan menikmati permainanku, sementara aku juga merasa geli di bawah sana, kurasakan ada gerakan memutar-mutar di dalam liang vaginaku oleh jarinya.
Sungguh suatu sensasi yang hebat sekali sampai pinggulku turut bergoyang menikmatinya, juga semakin bersemangat mengulum penisnya. Tiba-tiba dia menggeram sambil menepuk-nepuk pantatku sepertinya menyuruhku berhenti, tapi karena sudah tanggung aku malahan makin hebat mengocok dan mengisap penis itu sampai dia susah payah menahan geraman nikmatnya. Akhirnya muncratlah cairan putih itu di dalam mulutku yang langsung saya minum seperti kehausan, cairan yang menempel di penisnya juga saya jilati sampai tak bersisa. Tak lama kemudian Pak Rudy dengan penuh nafsu langsung melumat payudaraku dengan mulutnya. Aku menjerit kecil waktu dia menggigit putingku dan juga mengisapnya kuat-kuat, bulatan mungil itu serasa makin menegang saja. Dia membuka mulutnya lebar-lebar berusaha memasukkan seluruh payudaraku ke mulutnya, di dalam mulutnya payudaraku disedot, dikulum, dan dijilat. Sementara selangkanganku makin basah oleh permainan jarinya, jari-jari itu menusuk makin cepat dan dalam saja. Hingga suatu saat birahiku terasa sudah di puncak, mengucurlah cairan kenikmatanku
"Oooohhh.....Paaakk....Saayaaa.....keeellluuuaaarr rr.....Oooohhhh.....“ desahku panjang ketika mencapai orgasme pertama.
Aku mengatupkan pahaku menahan rasa geli di bawahku sehingga tangannya terhimpit diantara kedua paha mulusku. Kembali lidahnya menjilati payudaraku yang sudah basah itu, sedangkan aku menjilati cairan pada tangannya yang disodorkan padaku. Tanganku yang satu meraba-raba ke bawah dan meraih penisnya danterasa olehku batang itu kini sudah mengeras lagi siap memulai aksi berikutnya.
“Enggh.. masukin aja Pak, saya udah kepingin banget nih....” kataku tanpa malu-malu.
Dia membalik tubuhku, tepat berhadapan dengannya, tangan kanannya memegangi penisnya untuk diarahkan ke vaginaku. Aku membukakan kedua bibir vaginaku menyambut masuknya benda itu. Setelah kurasakan pas aku mulai menurunkan tubuhku, secara perlahan tapi pasti penis itu mulai terbenam dalam kemaluanku. Goyanganku yang liar membuat Pak Rudy mendesah-desah keenakan. Kedua tangannya meremas-remas kedua payudaraku dan ketika melumat payudaraku terkadang kumisnya yang tipis itu menggesek putingku menimbulkan sensasi geli yang nikmat. Lidahnya bergerak naik ke leherku dan mencupanginya sementara tangannya tetap memainkan payudaraku. Birahiku sudah benar-benar tinggi, nafasku juga sudah makin tak teratur, dia begitu lihai dalam bercinta, kurasa bukan pertama kalinya dia berselingkuh seperti ini. Aku merasa tidak dapat bertahan lebih lama lagi, frekuensi goyanganku kutambah, lalu aku mencium bibirnya. Tubuh kami terus berpacu sambil bermain lidah dengan liarnya sampai ludah kami menetes-netes di sekitar mulut eranganku teredam oleh ciumannya. Mengetahui aku mau keluar, dia menekan-nekan bahuku ke bawah sehingga penisnya menghujam makin dalam dan vaginaku makin terasa sesak. Tubuhku bergetar hebat dan jeritanku tak tertahankan lagi terdengar dari mulutku, perasaan itu berlangsung beberapa saat sampai akhirnya aku terkulai lemas dalam pelukannya.
Dia menurunkanku dari pangkuannya, penisnya terlihat berkilauan karena basah oleh cairan kewanitaanku. Dibaringkannya tubuhku yang sudah lemas itu di sofa, lalu dia sodorkan gelas yang berisi teh itu padaku. Setelah minum beberapa teguk, aku merasa sedikit lebih segar, paling tidak pada tenggorokanku karena sudah kering waktu mendesah dan menjerit. Sebelum tenagaku benar-benar pulih, Pak Rudy sudah menindih tubuhku, aku hanya bisa pasrah saja ditindih tubuhnya. Dengan lembut dia mengecup keningku, dari sana kecupannya turun ke pipi, hingga mulut kami kembali saling berpagutan. Saat berciuman itulah, Pak Rudy menempelkan penisnya pada vaginaku, lalu mendorongnya perlahan dan mataku yang terpejam menikmati ciuman tiba-tiba terbelakak waktu dia menghentakkan pinggulnya sehingga penis itu menusuk lebih dalam. Akupun sangat menikmati gesekan-gesekan pada dinding vaginaku. Payudara montokku saling bergesekan dengan dadanya yang sedikit berbulu, kedua pahaku kulingkarkan pada pinggangnya. Aku mendesah tak karuan sambil mengigiti jariku sendiri. Sementara pinggulnya dihentak-hentakkan diatasku, mulutnya tak henti-hentinya melumat atau menjilati bibirku. Tak lama kemudian dia angkat lengan kananku ke atas dan dia selipkan kepalanya di situ. Ternyata dia sapukan bibir dan lidahnya di ketiakku yang halus tak berbulu itu, kumis kasar itu menggelitikku sehingga desahanku bercampur dengan ketawa geli.
“Uuuhh..... Paaakkk...... aakkhhhhhh.....saya keelluuaaarrr.....” aku kembali mencapai orgasme.
Vaginaku terasa semakin banjir, namun tak ada tanda-tanda dia akan segera keluar, dia terlihat sangat menikmati mimik wajahku yang sedang orgasme. Suara kecipak cairan terdengar jelas setiap kali dia menghujamkan penisnya, cairanku sudah meleleh kemana-mana sampai membasahi sofa. Tanpa melepas penisnya, Rudy bangkit berlutut di antara kedua pahaku dan menaikkan kedua betisku ke pundaknya. Tanpa memberiku istirahat dia meneruskan mengocok kemaluanku, aku sudah tidak kuat lagi mengerang karena leherku terasa pegal, aku cuma bisa mengap-mengap seperti ikan di luar air.
“Bu Rika, saya juga udah mauuu.....keeeluuaarrrr....Aaaahhh..... !” desahnya dengan mempercepat kocokkannya.
"Keluarin di dalam saja, saya ingin merasakan hangatnya sperma Bapak....." kataku.
"Tapi Bu......" kata Pak Rudy.
"Bapak tenang saja, saya rutin kok minum obat anti hamil....." kataku.
Akhirnya dengan sodokan yang cukup keras sambil meremas kedua payudaraku, Pak Rudypun mencapai puncaknya yang di sertai semprotan cairan spermanya dari dalam penisnya. Crrrroootttt......crrrroooottttt......crrrooootttt t...... Kurasakan begitu deras dan banyak cairan spermanya yang menyemprot di dalam vaginaku dan tak lama kemudian akupun kembali orgasme sehingga vaginaku semakin banjir oleh cairan kenikmatan kami berdua.
Setelah denyutan penisnya melemah, Pak Rudy menarik penisnya dari lubang kemaluanku dan duduk di sebelahku. Seketika itu aku bangkit dan membersihkan cairan yang masih menempel di batang penisnya sehingga penisnya tampak basah oleh air liurku. Setelah itu kami saling berpelukan dan bibir kami saling melumat. 20 menit kemudian aku mengajak Pak Rudy ke kamar mandi, di dalam kamar mandi kamipun saling membersihkan tubuh. Selesai mandi, dengan telanjang bulat mengajak Pak Rudy tiduran di ruang tengah. Sambil rebahan secara bergantian tangannya meremas-remas payudaraku dan sesekali mengigit puting susuku hingga putingku menjadi merah, sampai akhirnya akupun kembali terangsang dan kembali Pak Rudy menyetubuhi tubuhku hingga menjelang sore, ntah berapa banyak cairan spermanya yang menyemprot di dalam vaginaku. Setelah itu kami kembali mandi bersama, selesai mandi kami kembali mengenakan pakaian dan ketika itu aku hanya mengenakan kaos dan celana pendek tanpa BH, CD dan Jilbab. Lalu kami menuju ke ruang tamu, di ruang tamu Pak Rudy memintaku untuk duduk di atas pangkuannya dengan posisi membelakanginya. Sambil ngobrol, dari belakang tangannya meremas-remas payudaraku secara bergantian. Lalu kurasakan penisnya dari dalam celana panjangnya perlahan-lahan mulai mengeras, sampai akhirnya akupun tidak kuat menahan nafsu yang kembali melanda. Segera aku bangkit dan berjongkok di antara pahanya, lalu kubuka resleting dan kuturunkan celana panjangnya sehingga seketika itu penisnya tepat mengacung dengan tegaknya di atas wajahku. Tanpa di suruh segera kukulum batang penisnya, 20 menit kemudian tubuh Pak Rudy tampak mengejang kencang dan disertai muncratnya spermanya di dalam mulutku, tanpa ragu kutelan seluruh spermanya. Setelah kubersihkan batang penisnya dengan mulutku, Pak Rudy segera merapikan pakaian dan tak lama kemudian dia pamit pulang.
Sejak saat itu kamipun rutin berhubungan seks, tiap kali menagih premi Pak Rudy kembali menyetubuhiku di segala penjuru rumah. Kadang di kamar, kadang di ruang tamu, kadang di ruang keluarga, kadang di meja makan, kadang di dapur, kadang di kamar mandi dan bahkan bila keadaan rumah sedang ramai maka akupun mengajaknya untuk menyewa kamar motel.
TAMAT
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar