Namaku Arfan dan aku punya seorang saudara jauh yang kupanggil (mbak) Dina. Kami pertama kali bertemu saat aku berumur delapan tahun. Selama tiga tahun ke depan kami sering bermain bersama karena kebetulan tinggal satu kompleks. Ketika aku berumur sebelas tahun, Dina dan keluarganya pindah ke Malang. Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sampai kuliah ketika aku ternyata satu kampus dengannya.
Jangan salah lo, gan. Aku ga punya fantasi seksual tentang saudaraku, bahkan ketika kami bertemu lagi sebagai remaja dewasa. Waktu itu yang di benakku, Dina adalah seorang teman dan semacam kakak perempuan bagiku (kakak kandungku satu dan dia cowok). Di awal-awal kehidupanku sebagai mahasiswa, Dina yang memperkenalkan kota Malang padaku. Dia menunjukkan tempat-tempat yang kira-kira penting, mulai dari tempat beli buku (palsu) yang murah sampai ke kafe tempat nongkrong yang murah tapi asyik. Kadang-kadang kalau aku ngga ada kegiatan, mbak Dina akan mengajakku keluar bersama teman-temanya. Begitu juga sebaliknya kalau dia ga sibuk, aku kadang ngajak dia nongkrong bareng teman-temanku. Kami terus mempunyai hubungan seperti itu sampai tahun keduaku sebagai mahasiswa.
Saat itu seharusnya Dina sudah lulus, tapi dia malah mengambil cuti satu tahun dan kerja sebagai store manager di sebuah butik. Kadang saat ia harus lembur, akulah yang mengantarnya pulang dengan sepeda motorku bila pacarnay berhalangan. Nah, pas hari "kejadian"-nya, gan, aku sadar kalo akhir-akhir ini selalu aku yang menjemput Dina pulang ketika dia lembur. Tebakanku adalah dia sedang berantem sama pacarnya.
Hari kejadian itu sudah ditentukan sama nasib, gan. Kalo bukan nasib mungkin setan yang ngatur, atau mungkin juga malah malaikat. Yang jelas itu, pas keluar dari kostku langit itu cerah. Bintang-bintang bertaburan kaya ga ada kerjaan lain (emang ga ada!). Lah kok pas aku jemput Dina pulang, di tengah jalah kami kaya disiram air berember-ember. Hujan dueres!! Akupun memutuskan untuk berteduh di sebuah pos satpam yang kayanya sudah ga dipakai. Tapi kala itupun aku dan Dina sudah basah sampai ke tulang-tulang.
Untuk pertama kalinya selama hampir sepuluh tahun, aku melihat lekuk-lekuk tubuh Dina. Buah dadanya itu menurutku besar. Aku ga tau ukuran beha jadi kujelasin gini aja deh: tanganku itu cukup besar untuk memegang bola voli dengan satu tangan tanpa menjatuhkkannya, tapi ga cukup besar untuk mencengkeram bola sepakbola. Nah kalau tanganku kutelungkupkan, buah dada Dina ketutup separuh. Itu kira-kira B atau C ukurannya? Yang jelas aku yakin itu bukan A. Kalau buah dadanya ga cukup menggiurkan, pinggang dan pantatnya dijamin bikin keblinger. Pinggangnya kecil, gan, dibanding perut apalagi pantatnya. Nah yang di belakang tuh bunder dan keangkat kaya bokong-bokongnya cewek negro. Di saat itulah aku pertama kali terangsang sama saudaraku sendiri. Yang lebih gila lagi, pos satpam itu ga ada lampunya, gan. Tapi kami dapet cahaya remang-remang dari rumah-rumah terdekat. Aku langsung tegang.
Aku masih menghormati Dina, jadi aku ga goda-goda dia buat ngelakuin yang aneh-aneh. Seingatku adalah aku nanya sesuatu tentang pacarnya, seorang cowok bego yang namanya Reky, untuk mengalihkan perhatianku dari lekuk-lekuk tubuh Dina. Jawaban dia pendek, dia udah putus, setelah itu dia menggerutu kedinginan. Aku ngeliat dia menggigil sambil mengusap-usap pundaknya. Aku bilang ke dia yang perlu digosok-gosok itu dadanya, supaya paru-paru sama jantungnya tetep anget. Aku bukan menggoda lho! Ini beneran! Dina juga tahu kalo itu masuk akal dan dia mulai ngeraba-raba dadanya sendiri tapi ia munggungi aku. Abis itu dia bilang dia tetap kedinginan dan mau duduk di pojokan aja biar anget.
Menempel di tembok belakang pos satpam itu ada bangku dari semen. Dina langsung duduk di pojoknya sambil terus ngusap-ngusap dadanya. Sementara aku malah memilih untuk lompat-lompat kecil biar tetap hangat. Mungkin dia risih kali ya liat aku pencilakan, atau mungkin juga dia diam-diam menginginkan sebuah "kejadian". Yang jelas pada satu titik dia minta aku duduk di sampingnya biar kami berdua hangat. Aku bukan homo, jadi aku ga nolak. Tapi saat itupun aku masih sopan dengannya, sekedar duduk di sampingnya aja sambil melekatkan lenganku ke punggungnya. Biar ga canggung, dan ga mikirin kemaluanku yang lagi tegang, aku nanya lagi tentang Reky.
Dina bercerita kalau Reky ternyata selingkuh dengan temannya, Athalia. Aku inget banget dengan Lia. Dia body-nya sip, tapi, kalo boleh menilai tampang ni, kecantikannya jauh di bawah saudaraku. Kalau memang benar si Reky berani selingkuh, kurasa ada sesuatu di antara mereka yang mendorong kejadian itu. Aku ingat menepuk-nepuk pundak mbak Dina dan mengatakan kalau aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa-apa, tapi aku yakin mbak Dina bisa mendapatkan yang lebih bagus lagi. Dina menanggapi dengan mengatakan kalau Reky berselingkuh dengan melakukan seks bersama Lia. Aku tambah tegang, tapi masih mencoba untuk cool.
"Walah, ya itu mbak. Kami para cowok kan lebih sering berpikir dengan kepala kecil daripada kepala besar," candaku tapi mbak Dina tidak tertawa. Dia menoleh padaku. Matanya sendu, bibirnya menyempit tapi tambah tebal, sensual sekali sampai-sampai aku merasa kemaluanku sudah bungee jumping keluar celanaku.
"Aku... aku juga uda pernah em-el sama Reky," katanya. Aku bisa melihat kalau dia sedih sekali dan walaupun celanaku sudah hampir meledak, aku tetap menjaga diri. Aku mengusap rambut basahnya dan mengatakan, "I'm sorry. Aku yakin mbak Dina bisa dapet yang lebih baik." Itu saja... dan Dina menanggapi dengan mencium bibirku.
Aku mengecup balas, tapi sengaja ga memberi lebih dari itu. Dua kecupan dan ciuman kami jeda sebentar. Aku mengira ciuman itu berakhir tapi ternyata Dina sekedar mengambil nafas untuk memulai cipokan. Dia menciumku dalam-dalam sambil memeluk kepalaku. Lidahnya mencoba membuka bibirku. Aku tidak menolak lagi. Kamipun adu lidah dan aku tersesat dalam permainan itu tanpa menyadari apa yang terjadi. Ketika aku sadar, Dina sudah dipangkuanku.
Posisi itu tidak nyaman. Aku duduk melorot di bangku, pundakku menyandar ke tembok tapi punggungku tidak. Walau begitu seorang dewi ada di pangkuanku. Kami saling berhadapan dan lidahnya bermain-main di dalam mulutku. Peduli setan dengan posisi.
Dina berhenti lagi. Sekarang mata kami saling bertemu. Aku kira dia akan sadar ini sebuah kesalahan dan berhenti di situ juga, tapi ngga. Dia senyum, maniiis sekali, tertawa kecil dan mulai menciumku lagi. Sekarang aku yakin kalau tidak ada yang bisa menghentikan kejadian ini. Selama hujan deras turun, pos satpam ini milik kami. Dina mengeluarkan blusnya dari rok dan membuka dua kancing bawahnya, bukan atas. Aku tahu apa yang diinginkannya jadi aku menyelipkan kedua tanganku ke balik blusnya, mengangkat behanya ke atas lalu meremas buah dadanya yang menonjol. Aku merasakan sensasi kenyal yang sangat menggairahkan tapi Dina sepertinya merasakan lebih dari itu.
Di tengah-tengah ciumannya ia melenguh, mendesah, dan tertawa kecil menikmati pijatanku. "Terusss Fan. Enaagg..," bisiknya di kala ia mengambil nafas. Akupun mencoba mengimbangi (biasalah belum berpengalaman). Aku tidak merasakan pentilnya mengeras atau hal-hal seperti itu tapi aku ingat betapa nikmatnya permainan kami. Dina menggila, ia menggoyangkan pinggulnya agar selangkangan kami bergesekan. "Enaag, Fan... Terusss." Akupun tersesat lagi dalam permainan kami. Hal berikutnya yang kuingat adalah resleting celanaku sudah terbuka dan kemaluanku mengambil sikap sempurna.
Seragam bawahan Dina adalah rok selutut yang tidak ketat. Iapun melepas celana dalamnya dan kembali kupangku berhadapan. Kami berciuman lagi. Sekarang satu tanganku meremas-remas pantat bulat Dina sementara yang lain mengusap pipinya. Ia mendesah, "Enaag Fan. Kamu suka ga? Enaag kan, dek?" Begonya aku cuma bisa bales dengan nyebut, mbak Dina. Udah gitu aja, ga ada asik sayang, atau enak Din, aku cuma manggil namanya dan terus bergerilya. Belum pernah aku mendapat rangsangan sebanyak itu.
Entah kapan, tapi pada satu titik aku merasakan sensasi yang berbeda di kemaluanku. Aku sudah memasuki Dina dan dia menggoyangkan pinggulnya pelan tapi ritmis. Aku kehabisan kata-kata saat itu. Kami berhenti berciuman dan saling menatap sementara Dina terus memeras kemaluanku dengan vaginanya. Mulutnya terbuka sedikit, entah keringat entah air hujan menetes dari dagunya, nafasnya berat dan cepat, terdengar di antara lenguhan dan desahannya. Setiap goyangannya kuimbangkan dengan goyangan pinggulku sendiri. Tanganku meremas-remas buah dadanya karena tampaknya ia sangat menikmati itu karena setiap beberapa kali aku melakukannya ia akan melenguh sambil tersenyum lalu tertawa kecil. Sensasinya itu luar biasa. Akupun tidak bertahan lama karenanya.
"Aku mau keluar, Din!" kataku tergesa. Dia bilang tahan karena diapun hampir sampai. Ia mencium bibirku lagi dan mengigit-gigit lidahku sementara pinggulnya bergoyang gila. Aku bisa merasakannya keluar ketika kemaluanku di dalam vaginanya! Aku kira hal itu tidak masuk akal! Aku sudah diujung kekuatanku jadi dia kudorong pelan hingga melorot ke lantai. Aku arahkan kemaluanku ke tempat lain tapi ia menyambar lalu menjepitnya dengan buah dadanya yang aduhai. Ia belum sempat mengocok, pejuhku sudah tumpah. Ia ikut melenguh seolah-olah orgasmeku juga miliknya. Aku langsung lemas tapi merasakan nikmat yang luar biasa.
Kami berberes setelah itu. Dina melap pejuhku dengan celana dalamnya lalu membuangnya keluar pos satpam seenaknya. Setelah itu aku canggung, tidak tahu harus bereaksi gimana. Untungnya Dina ga sekaku diriku. Ia memegang kedua pipiku dengan tangannya dan mencium bibirku lembut. Cuma satu kecupan. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. "Nikmatin leganya, Fan," aku ingat dia berkata. Ketika hujan tinggal rintik-rintik, akupun mengantarnya pulang.
Sesampai kontrakannya, Dina berterima kasih padaku. Katanya bukan karena telah menjemputnya tapi karena telah menenangkannya. Menurutnya ia sudah tidak marah lagi terhadap Reky atau gimana gitu. Aku bilang kalau dia marah sama cowok lain, dia tinggal cari aku. Ia memberikanku tawa kecilnya yang sensual itu dan senyuman kedewian-nya. Walau setelah itu aku tidak pernah melakukannya lagi dengan saudaraku tapi aku sama sekali tidak menyesalinya. Karena setelah kejadian itu, akupun jadi lebih nyaman menghadapi wanita.
_THE END_
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


0 komentar:
Posting Komentar