Pada hari Sabtu datanglah calon PRT itu, namanya Nami, umurnya sekitar 25 tahun, kabarnya dia janda dengan 1 anak. Wanita itu datang sendiri saja, mengenakan kaos yukensi dan celana panjang yang cukup ketat sehingga menonjolkan bagian tubuhnya, terutama bagian dada dan pantatnya.
Jantungku berdetak kencang menyadari bahwa aku punya peluang melihat tubuh Nami bugil, dan memang, tatkala aku melewati pintu kamar mandi, dengan jelas kulihat tubuh bugil Nami yang membuat kejantananku berkobar. Bodynya benar-benar bahenol dan padat. Payudaranya yang besar tampak masih sangat kencang dan demikian pula dengan pantatnya yang besar. Ingin rasanya aku melabrak masuk ke kamar mandi dan menerkam tubuh bahenol itu, namun aku cukup bersabar. Aku takut dia teriak dan malah jadi berabe.
“Mbak Nami, katanya punya anak ya? Umur berapa”, tanyaku.
“Iya Mas, baru umur 3 tahun, tingga di kampung sama neneknya”, jawabnya.
“Wah, masih kecil ya, pasti masih butuh susu”, celotehku nakal sambil melirik buah dadanya yang super itu.
“Iya Mas, makanya saya kerja di sini, semua buat anak saya”, jawab Nami lugu tanpa sadar mataku dengan nakal memandangi buah melonnya penuh nafsu.
“Kamu kan saya gaji 750 ribu, mau enggak saya tambahin 250 ribu untuk uang susu anak kamu?”, sebuah pertanyaan yang mengundang tanda tanya.
“Wahh… kalau memang boleh sih, tentu mau Mas”, wajah kemayu Nami semeringah.Dia tak sadar bahwa tawaranku pasti “ada udang di balik kutang”.
“Saya siap, ini uangnya”, kataku sambil menunjukkan uang 100 ribuan sebanyak sepuluh lembar.
“Besok kamu kan gajian, saya bisa kasih 1 juta, hanya ada syaratnya”, aku mulai tak kuasa menahan diri.
“Syarat apa Mas?”, tanya Nami yang mulai agak sadar pada maksudku.
“Hmmm… saya kasih uang susu buat anak Mbak, tapi saya minta susu dari Mbak”, aku langsung menembak.
“Ihhh… jangan Mas…”, ia tampak sangat jengah dan berusahan menolak tanganku.
Tapi aku sudah sangat paham bahasa tubuh wanita yang benar-benar menolak dengan tolakan yang basa-basi. Jelas tolakan Nami adalah basai-basi. Mana mungkin dia menolak diriku, seorang pria mapan yang usianya lebih muda darinya, dan menjanjikan tambahan uang baginya. Sementara dia adalah seorang janda yang tentu saja haus belaian dan butuh uang.
“Ini uangnya, simpan sana”, kataku seraya menyerahkan uang satu juta pada Nami,”Tapi kembali lagi ke sini ya, saya mau minum susu”.
“Ihh…. Mas…”, Nami masih malu, namun uang itu segera disambarnya dan dengan muka masih tersenyum wanita bahenol itu masuk ke kamarnya.
Aku tak perlu menunggu lama, wanita itu kembali lagi dengan wajah masih malu-malu dan dia juga sengaja menggati baju yang lebih mudah untuk di buka.
“Sini… duduk dekat saya”, ajakku.
Nami merapatkan tubuhnya di sampingku. Aku yang sudah birahi langsung meletakkan tanganku di atas buah dadanya.
Nami yang sudah lama menjanda itu tentu saja seperti orang haus yang diberi segelas air dingin. Wanita desa itu dengan wajah pasrah bercampur harap menyerahkan tubuh montoknya padaku. Baju putih yang dikenakannya dalam sekejap sudah terpapar di lantai. Tubuh montoknya hanya dibungkus tentop pink dan cd. Buah dadanya dengan sombong menimbulkan puting susu coklat , sementara warna hitam jembutnya terbayang di balik CD tipisnya.
Sadar bahwa Nami bakalan orgasme duluan karena sudah lama dia tidak disentuh laki-laki, aku justru meraba-raba vaginanya dan kudapati kalau liang senggamanya memang sudah becek.Tanganku sibuk memijat klitoris Nami sehingga wanita itu makin melejat-lejat dibakar birahi dan akhirnya meledak tatkala jariku menelusup masuk liang vaginanya.
Tubuh montok itu menggelinjang menikmati rasa orgasme dirasakannya.
“ohh… maaf ya Mas…”, katanya merasa tidak enak padaku.
“Enggak apa, yang penting masih bisa dipakai kan?” candaku.
“Masih dong Mas… habis Mas belum buka baju sih, mana kontolnya Mas…”, pintanya jorok sambil berupaya menelanjangiku. Dengan cekatan dia membuka celana panjangku dan sekaligus celana dalamku.
“Woow… gede juga nih kontolnya…”, puji Nami.
“Emut dong… jilatin kontol saya”, pintaku dan segera di kunyakan oleh Nami.
Tanpa canggung lagi, Nami memasukkan penisku ke mulutnya penuh nafsu.
Nami yang kini menjadi budak seksku tentu menuruti semua kataku. Dia menungging dan menghadapkan pantat bahenolnya padaku, membuatku semakin bernafsu menyerang vaginanya dari belakang. Tak sulit memasuki vagina wanita anak satu yang sudah becek ini, penisku dengan penuh semangat memompa vaginanya, maju mundur, keluar masuk.
Setiap erangan dan kata jorok dari mulutnya justru menambah panas birahiku. Sampai saatnya aku mengocok dengan cepat vaginanya.
“Sebentar lagi saya keluar ya….keluarin di dalama aja ya…”, pintaku.
“Iya Mas… silahkan… ayo…. saya juga mau puas lagi nih…”, jerit Nami.
Ternyata Nami orgasme lebih dahulu dan lejatan dinding vaginanya mendorong penisku juga menyemprotkan sperma hangat ke rahimnya.
Setelah itu ku cabut penisku dan dia pun tergeletak lemas campur nikmat.
“Saya… yang terima kasih Mas…” dengan wajah mesum,”Kapan Mas mau, saya siap”.
Setelah itu kami bersih bersih kan badan.
Setelah bersih-besih dan berpakaiyan aku pun kembali bernafsu melihat nurlela lagi.
langsung saja ku buka setengah dasteer yang di gunakannya, tampa menggunakan beha dan cd. langsung aku serang kemaluan nya dari belakang...
langsung ku cabut batang penis ku. langsung ku tembakkan peju ku di wajah dan mulutnya.
















0 komentar:
Posting Komentar