Aku Inez, saat ini aku kerja ditempat om Ahmed sebagai housekeeper. Aku dah kerja sebagai housekeeper sejak aku DO dari
kelas 10 kerna gak da biaya. Om Ahmed merupakan bos kedua setelah aku brenti dari bos pertamaku terdahulu. Om Ahmed
turunan arab, aku ngebayangin kaya apa gede dan panjangnya barangnya, katanya kan ukuran arab segede dan sepanjang
pisang tanduk. aku suka horny ja ngebayangin. Ma bos terdahulu yang barangnya gak segede pisang tanduk aja aku selalu
terkapar kalo dia dah puas, palagi ma yang segede pisang tanduk. Om Ahmed juga suka jelalatan ngeliatin aku, maklum aku
masi abg banget, umurku ja blon kepala2. Sepertinya dia napsu banget ma aku, cuma gak pernah ngomong apa2 tentang
napsunya.
Satu hari om Ahmed nyuru aku nyiapin ruang kerjanya untuk miting bersama 3 orang temen bisnisnya, katanya semua arab,
Om Idris, om Jamal dan Om Zul. Dia terus terang nanya ke aku, "Nez kamu dah pernah dien totin kan". "Udah om, ma bos
seblon ini Inez sering dien tot". "Lo gitu, kamu mau gak sehabis miting nbgeladenin napsu temen2 bisnisku". Waduh kebayang
digarap 4 arab kaya apa aku jadinya. "Jangan kawatir, nti aku undang juga Sintia yang dah biasa digarap temen2 bisnisku,
jadi kamu ma Sintia yang ngeladenin mereka dan aku tentunya". Aku cuma ngangguk aja.
Harinya mreka miting dari pagi, aku cuma nyiapin makanan dan minuman untuk break dan makan siang mereka. Sampe sore
miting blon selesai, om Ahmed nyuru aku nyediain makan malem buat mreka, aku kira rencana setelah miting gak jadi. "Sintia
dah kukontak, nti jam 8an dia mo dateng, kebetulan dia gi ndirian dirumah". O acaranya jam 8 toh. Ya aku siapin makan
malem buat mereka. Sepertinya om Ahmed dah ngasi tau rencana mengenai hiburan sex setelah miting, maka mreka buru2
makan malem yang telah kusediakan seblon waktunya. Sintia juga dah sampe dirumah. Aku baru liat prempuan secantik
Sintia, badannya proporsional ma asesoris badannya, toket dan pinggul serta pantatnya sesuai banget bentuk badannya, gak
gede gak juga kecil.
Kami santai diruang keluarganya yang besar, Om Zul langsung ja meluk Sintia. Sintia meraba-raba serta meremas-remas
batang kon tolnya dari balik celananya. Dia yang sedang menikmati remasan dan rabaan tangan Sintia, mulai melakukan aksi
balik, tangannya mulai meremas-remas toket Sintia, mulutnya mulai melumat bibir Sintia, aksi balas om Zul membuat Sintia
mendesah.
om Idris melakukan hal yang sama kepada aku, mulutnya melumat bibirku dengan penuh nafsu, kedua tangannya beraksi
melucuti pakaian atasku yang dilanjut dengan membuka Braku, kedua toketku yang masih mengkal, maklum aku kan masi
abg banget, Sintia cuma beberapa taun tuaan dari aku. kedua pentilku yang berwarna merah muda sedikit mencuat, dengan
tidak sabar om Idris memnyerbu kedua toketku, remasan-remasan penuh nafsu dilakukannya kebukit kembarku diselingi
dengan pilinan-pilinan dikedua pentilku. om Jamal dan om Ahmed yang sedang remesan tanganku segera melucuti sisa
pakeanku termasuk dengan celana dalamku, akhirnya aku dibuat telanjang bulat oleh mereka, Kemudian mereka bertiga
melepaskan pakaian mereka dengan tergesa-gesa, dengan keadaan telanjang bulat mereka mulai menyerbu aku, om Jamal
menerkam bagian atas ku dengan penuh nafsu, dia melumat bibirku yang kusambut dengan penuh nafsu, sementara tangan
om Idris beraksi dikedua toketku, remasan-remasan tangan om Idris dan pilinan-pilinan dikedua pentilku membuat aku
mendesah apalagi om Ahmed juga mulai beraksi dibagian bawah tubuhku, om Ahmed dengan penuh nafsu menjilati memekku
dan dan menghisap-hisap itilku.
Sementara itu, om Zul menghentikan serangannya, ia mulai melucuti pakaian yang dikenakan oleh Sintia sehingga tubuh
mulus dan putih Sintia terpampang dengan jelas. Sintia juga membalas dengan melucuti semua pakaian om Zul, saat celana
dalam om Zul terlepas, Sintia melihat batang kon tol om Zul yang sudah berdiri tegak dengan gagahnya, dibandingkan dengan
kepunyaan suaminya memang sangat berbeda, om Zul kemudian merebahkan tubuhnya diatas karpet, Sintia dengan posisi
merangkak mulai menyerbu batang kon tol om Zul, dikulum-kulum dan dijilatinya barang om Zul itu dengan penuh nafsu,
sambil menikmati emutan dan jilatan Sintia dikon tolnya, tangan om Zul tidak tinggal diam, kedua tangannya mulai menyerang
toket dan memek Sintia, tangan kirinya asyik meremas-remas toket Sintia bergantian dengan pilinan-pilinan dikedua
pentilnya, tangan kanannya dengan lembut menggesek-gesek memek dan itil Sintia, kadang-kadang jari tengahnya
menerobos kedalam lubang memek Sintia lalu dikocok-kocokkan keluar masuk dilubang memek Sintia.
om Idrispun mendahului temen2nya, diasegera merangkak ke tubuhku, ia mulai menjilati memek dan itilku, aku juga mulai
dengan penuh nafsu batang kon tol om Jamal kuemut dan kujilati, om Jamal melenguh menikmati sedotan-sedotan mulutku
dibatang kon tolnya. Om Idris melesakkan kedua jarinya kedalam lubang memekku, dan mengocok-ngocokannya keluar
masuk lubang memekku, dari mulutku yang sedang penuh oleh jejalan batang kon tol om Jamal terdengar erangan dan
lenguhan, aku betul-betul menikmati sensasi permainan mulut dan tangan om Idris dimemekku. Aku dengan penuh nafsu
sedang menikmati batang kon tol om Jamal, kukulum kon tolnya, tangan kiriku mengelus-ngelus biji pelernya, sementara
tangan kanan meremas-remas rambut om Idris yang masih asyik bermain dengan memekku, kadang-kadang pantatku
terangkat menyambut hisapan mulutnya serta sodokan jari tangan nya dimemekku, lenguhan dan erangan terdengar keluar
dari mulutku, om Jamal merasakan kenikmatan yang tiada duanya, ia betul-betul menikmati emutan dan jilatanku dikon
tolnya, tangan kirinya memegang kepalaku, kadang-kadang mendorong kepalaku akibatnya kontolnya hampir masuk
semuanya didalam mulutku dan membuat aku tersedak, sementara tangan kanannya meremas-remas kedua toketku
bergantian kiri dan kanan, dan ditingkahi dengan memilin-milin kedua pentilku. Sementara om Ahmed senyum2 aja melihat
aksi temen2 bisnisnya, dia ngasi kesempatan lebih dulu kepada temen2nya untuk menikmati Sintia dan aku walaupun dia
nampak bernapsu banget liat aku digarap 2 temennya.
Memek Sintia semakin basah mendapatkan serangan om Zul yang bertubi-tubi, Sintia sudah tidak sabar lagi ingin merasakan
sodokan-sodokan kon tol om Zul dilubang memeknya, dengan segera Sintia merangkak diatas tubuh om Zul dan mulai
mengarahkan kon tol om Zul yang sudah semakin tegang itu kelubang memeknya, dioles-oleskannya kepala kon tol om Zul
dengan itilnya, kemudian Sintia menyelipkan kepala kon tol om Zul di lubang memeknya, dengan perlahan-lahan Sintia mulai
menurunkan pantatnya, batang kon tol om Zul mulai menerobos lubang memek Sintia, sedikit-demi sedikit kon tol om Zul
mulai menyeruak masuk, Sintia menurunkan pantatnya lagi, Sintia merasakan memeknya sesek akibat kon tol om Zul yang
lebih besar daripada kepunyaan suaminya, kembali Sintia menurunkan pantatnya, om Zul merasakan memek Sintia begitu
erat menjepit batang kon tolnya, dengan sekali hentakan kuat Sintia menekan pantatnya kebawah, batang kon tol om Zul
melesak lebih dalam lagi dimemeknya, om Zul merasakan ujung kepala kon tolnya bersentuhan dengan mulut rahim Sintia
begitu pula Sintia merasakan mulut rahimya tersentuh agak kuat oleh kepala kon tol om Zul, keduanya mrlenguh. Sintia
mendiamkan sebentar gerakannya, ia merebahkan tubuhnya ketubuh om Zul sementara mulutnya mulai menciumi mulut om
Zul, dibalas oleh om Zul dengan penuh nafsu, om Zul meneroboskan lidahnya kedalam mulut Sintia mencari lidahnya, lidah
mereka bertautan dirongga mulut Sintia, tangan om Zul mengelus-ngelus punggung Sintia dan kedua bongkah pantatnya,
kadang-kadang tangannya meremas-remas kedua bongkah pantat Sintia.
tingkah mereka tidak luput dari pandangan om Idris yang sedang asyik menjilati memekku karena posisi mereka tepat
berhadapan dengan kepala om Idris, om Idris melihat jelas sekali tahap demi tahap saat ****** om Zul menerobos masuk
kedalam lubang memek Sintia, lalu saat ia melihat tangan om Zul meremas-remas pantat Sintia, om Idris melihat lubang
pantat Sintia, ia ingat pengalamannya sewaktu mengentot lubang pantat Sintia, dan sekarang ia pengen ngerasain lagi. Dia
segera menghentikan aksinya, ia beranjak dari posisinya di memekku, kemudian om Idris berlutut dibelakang Sintia,
dibasahinya batang kon tolnya dengan air ludahnya, lalu ia selipkan kepala kon tolnya dilubang pantat Sintia, kepala kon tol
om Idris mulai terselip dilubang pantat Sintia, Sintia kaget sakit saat lubang pantatnya mulai diterobos oleh kepala kon tol om
Idris, Sintia meronta agar kepala kon tol om Idris terlepas dari lubang pantatnya tapi percuma karena om Zul yang melihat om
Idris mendekati Sintia dari belakang sudah mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh om Idris, kedua tangannya memeluk
erat Sintia sehingga Sintia tidak dapat bergerak. om Idris sambil mulai melesakkan batang kon tolnya dilubang pantat Sintia
pelan2 sampai makin dalem masuk kedalam lubang pantat Sintia. om Idris lalu dengan sekali hentakan ia dorong batang kon
tolnya sampe seluruh batang kon tolnya tertelan di lubang pantat Sintia, “Uuhh gila, sempit sekali nih lubang pantatmu, Sin,”
om Idris mengerang sambil bertanya. om Zul dengan lembut ia menciumi Sintia, dengan berpegangan pada pinggang Sintia,
om Idris mulai menggerakkan tubuh Sintia kedepan dan kebelakang perlahan-lahan, sehingga membuat batang kon tolnya
keluar masuk dengan sendirinya dilubang pantat Sintia, tapi bukan batang kon tolnya saja yang secara otomatis keluar
masuk, kon tol om Zulpun dengan sendirinya keluar masuk dilubang memek Sintia. Sintia mengerang keenakan yang luar
biasa, dari yang tadinya hanya diam saja sekarang Sintia mulai membantu gerakan om Idris yang memaju-mundurkan
tubuhnya, kedua toketnya yang bergelantungan didepan wajah om Zul bergoyang seiring dengan gerakan tubuhnya yang
maju mundur, dengan penuh nafsu om Zul menjilati dan mengulum-ngulum kedua toket Sintia bergantian kiri-kanan, dan
dihisap kuat2 kedua pentilnya, menambah sensasi kenikmatan Sintia. “Oohh enak sekali, terus isap ttoketku, tekan lebih
dalam…,” Sintia mengerang-ngerang kenikmatan, tubuhnya ia mundurkan lebih kuat membuat kedua ****** om Zul dan om
Idris melesak lebih dalam. “Enak betul memek kamu Sin, kon tolku seperti diremas-remas,” om Zul mengerang merasakan
keenakan saat dinding memek Sintia mencengkram erat batang kon tolnya dan berdenyut-denyut. “Iya lubang pantatnya juga
enak, kon tolku juga kaya diremas-remas nich,” erang om Idris bersamaan dengan erangan om Zul, om Idris merasakan
ketatnya lubang pantat Sintia menjepit kon tolnya, juga dinding lubang pantatnya yang berdenyut-denyut.
Saat om Idris mulai melesakkan kon tolnya kelubang pantat Sintia, om Jamal menggantikan tugas om Idris menggarap
memek dan itilku. kedua tangannya menguakkan lubang memekku, terpampang di mata om Jamal pemandangan yang
menakjubkan yang belum pernah ia lihat selama ini, itilku terlihat oleh om Jamal dengan jelas sementara memekku yang
berwarna merah muda terlihat jelas, tanpa membuang waktu lagi dan om Jamal mulai menjulurkan lidahnya dan mulai
menjilati memekku sambil menghisap2 itilku, tangan om Jamal mulai beraksi juga, kedua jari tengah dan jari manis tangan
kanannya mulai menerobos masuk kedalam lubang memekku, tangan kirinya mulai mengelus-ngelus lubang pantatku, aku
melenguh menerima serangan ini, pantat ku maju mundurkan perlahan-lahan, om Jamal menekan bagian dalam memekku
tepat dibelakang itilku saat ia menghisap-hisap itilku, kadang-kadang kedua jarinya mengocok memekku. “Oohh, terus isap
itilku yang kuat om, aahh enak, terus tekan, kocok lagi, ohh enak sekali…,” aku mengerang merasakan sensasi kenikmatan
permainan tangan dan mulut om Jamal. “Hhmm, memek kamu wangi Nez dan cairannya gurih…,” gumam om Jamal sambil
asyik menghisap-hisap itilku dan menelan cairan pelicin yang keluar dari memekku. Kocokan-kocokan tangannya semakin
dipercepat keluar masuk dalam lubang memekku yang semakin basah oleh cairan pelicinku, kadang-kadang om Jamal
menekan bagian belakang itilku saat ia menghisap kuat-kuat, tubuhku gemetar dibuatnya, lenguhanku semakin sering
terdengar, mataku merem-melek menikmati permainan om Jamal, kedua tanganku mulai meremasi kedua toketku sendiri. om
Jamal juga mulai meremasi kedua toketku melihat aku meremes2 toketku sendiri. tubuhku kadang-kadang melenting
menikmati serangan om Idris, kedua kakiku yang menopang saat tubuhku melenting terlihat gemetar, aku merasakan nikmat
yang luar biasa dengan permainan om Jamal, kedua jari tangan om Jamal keluar masuk dengan cepat, kadang-kadang dia
memutar-mutar jari tangannya yang sedang berada didalam memekku kekiri-kekanan, atau kadang-kadang om
Jamalmenekan keatas-kebawah kedua jari tangan saat kedua jari tangannya berada didalam memekku, sementara hisapan
dan jilatannya diitilku tidak berhenti saat dia melakukan aksi tangannya itu, aku dibuat merem melek oleh om Jamal,
lenguhan dan desahanku sering terdengar, bersahutan dengan suara Sintia yang sama-sama sedang menikmati serangan-
serangan di kedua lubangnya. Aksi om Jamal semakin menggila, jempol kirinya ia masukkan kedalam lubang pantatku dan
saat jempolnya sudah masuk semuanya didalam lubang pantatku, ia gerakkan jempolnya keatas-kebawah, aksinya ini
menambah sensasi kenikmatan buat aku, tangan kananku menekan belakang kepala om Jamal, pantatku terangkat, kaki dan
tubuhku gemetar merasakan kenikmatan permainan om Jamal.
Sementara Sintia yang sedang dikeroyok berdua mulai mendekati titik kenikmatannya, puncak kenikmatannya sudah
diambang pintu, erangannya semakin sering terdengar, tubuhnya mengejang-ngejang, keringatnya sudah membanjir menjadi
satu dengan keringat om Zul dan om Idris. “Oohh, teruss sodok memek dan pantatku, lebih kuat dan lebih dalam, aku tidak
kuat lagi, Oohh, aku mau keluar...,” Sintia mengerang keenakan, tubuhnya mengejang-ngejang dan gemetar,saat meraih
puncak kenikmatannya. lubang memeknya menyemprotkan lahar kenikmatannya menyirami ****** om Zul yang berada
didalam lubang memeknya. Sintia memeluk om Zul erat, tubuhnya meregang menikmati peraihan puncak kenikmatannya,
matanya terbeliak keatas sehingga hanya bola putihnya saja yang terlihat, mulutnya ternganga sementara kepalanya
mendongak keatas.
Saat Sintia sedang meregang menyambut puncak kenikmatannya, aku juga hendak meraih puncak kenikmatanku, tubuhku
mulai agak limbung, kedua kakiku gemetar, tangan kananku meraih belakang kepala om Jamal, tubuhku mengejang,
merasakan itu om Jamal semakin kuat menghisap itilku, sementara jari tangannya ia dorong lebih dalam dan digerakkan
keatas-kebawah, bagian depan dan belakang jari tangannya bergantian bersentuhan dengan dinding memekku. “Oohh, aku
keluar om…,” aku mengerang, puncak kenikmatanku berhasil kurengkuh, tubuhku mengejang, pantatku semakin terangkat
keatas, kedua kakiku gemetaran, kedua tanganku menjambak rambut om Jamal, sementara tubuhku melenting ditopang oleh
kepala dan kedua kakiku, aku melenguh kuat saat memekku mulai menyemburkan lahar kenikmatan, pantatku mengejut-
ngejut seirama dengan semburan lahar kenikmatan dari lubang memekku, mengejut-ngejut saat memekku menyemburkan
cairan kenikmatan, mataku terpejam merasakan sensasi kenikmatan yang berhasil ku capai, kepalaku terdongak
kebelakang.
om Idris mencabut batang kon tolnya dari jepitan lubang pantat Sintia, sementara om Zul mulai memompa kon tolnya keluar
masuk memek Sintia dengan perlahan-lahan, Sintia yang sedang merasakan sisa-sisa kenikmatan itu melenguh dibuatnya.
Sambil memompa om Zul menciumi Sintia dengan penuh nafsu, dilumatnya bibir Sintia, lidahnya menyelusup masuk kedalam
mulut Sintia mencari-cari lidah Sintia, kedua lidah mereka menari dirongga mulut Sintia, saling bertautan, om Zul mulai
menaikkan ritme sodokan-sodokan kon tolnya di lubang memek Sintia.
Sementara itu om Idris beranjak kearahku, yang saat itu sedang menikmati sisa-sisa kenikmatan, om Idrislalu menyuruh om
Jamal untuk mulai ngen totin aku sambil duduk dengan posisi WOT, om Idris membantu om Jamal dengan menggendong
tubuhku dan mengangkangkannya diatas tubuh om Jamal, sementara om Jamal mengarahkan kepala kon tolnya kelubang
memekku, diselipkannya kepala kon tolnya dimemekku, kepala kon tolnya terjepit oleh lubang memekku, aku melenguh saat
merasakan kepala kon tol om Jamal mulai menerobos lubang memekku, dengan perlahan-lahan om Idris mulai menurunkan
pantatku, kon tol om Jamal perlahan-lahan menerobos masuk kedalam lubang memekku. dengan sekali hentak om Idris
menekan pantatku kebawah, kon tol om Jamalpun terbenam seluruhnya didalam lubang memekku, aku melenguh keras saat
om Idris menghentakkan pantatnya itu. “Uuhh, kon tol om besar dan panjang, rasanya ujung kepala kon tol om menyentuh
mulut rahimku……,”lenguhku. om Idris lalu mendorong punggungku, sehingga tubuhku tengkurap diatas tubuh om Jamal, lalu
ia mulai menyelipkan kon tolnya kedalam lubang pantatku, aku menjerit saat merasakan kepala kon tol om Idris mulai masuk
lubang pantatku, aku merasakan sakit dilubang pantatku, tapi aku tidak bisa meronta karena saat itu om Jamal sedang
memelukku dengan erat, dengan terpaksa aku hanya dapat menerima perlakuan om Idris di lubang pantatku, sambil menahan
sakit kugigit pundak om Jamal, om Jamal mendiamkan gigitanku karena saat itu ia sedang merasakan kenikmatan yang
belum pernah ia alami sebelumnya, kon tolnya sedang terjepit dengan erat oleh memekku, ditambah dengan aksi om Idris
yang sedang meneroboskan kon tolnya dilubang pantatku sehingga membuat lubang memekku semakin sempit dirasakan
oleh om Jamal. “Terus, Dris, dorong terus, gila memeknya jadi tambah sempit, berkedut-kedut terus lagi, kon tolku kaya
dipijat-pijat,” teriak om Jamal yang sedang keenakan merasakan jepitan memekku. “Heeh, ini pantatnya juga sempit, masih
perawan...,”kata om Idris terkekeh-kekeh. om Idris terus menekankan kon tolnya lagi, perlahan tapi pasti kon tol om Idris
mulai masuk lebih dalam dilubang pantatku. Aku hanya bisa bergumam merasakan kesakitan saat kon tol om Idris menerobos
makin dalam dilubang pantatku. dengan sekali sentakan kuat om Idris mendorong kon tolnya, aku kembali menjerit akibat
sentakan om Idris itu, dengan kedua tangannya memegangi pinggangku om Idris mulai dengan perlahan-lahan memaju
mundurkan tubuhku, sehingga kon tolnya dan kon tol om Jamal mulai keluar masuk dengan sendirinya dilubang-lubangku.
kedua ****** mereka keluar masuk perlahan-lahan di kedua lubangku. Lama kelamaan rasa sakit yang kurasakan berangsur
menghilang berganti dengan rasa nikmat, aku sekarang mulai bisa merasakan enaknya pergeseran kedua ****** itu didalam
lubang memek dan pantatku, aku merasakan kedua lubangku penuh sesak oleh kon tol besar om Idris dan om Jamal, sensasi
nikmat yang aku rasakan sekarang belum pernah ku alami sebelumnya.
Sementara itu om Zul mulai memposisikan tubuh Sintia untuk menungging, Sintia menuruti kemauan om Zul yang ingin ngen
tot dia dari belakang, pantatnya ia angkat sementara dada dan wajahnya menempel keatas karpet, dengan tidak sabar lagi
om Zul mulai menyelipkan kepala kon tolnya dilubang memek Sintia, setelah dirasakan kepala kontolnya tepat dilubang
memek Sintia, dengan sekali sentakan kuat om Zul mendorong maju kon tolnya menerobos memek Sintiai. Batang kon tolnya
masuk kedalam memek Sintia lagi. “Aahh, kon tol om besar banget si..,”jerit Sintia saat lubang memeknya diterobos dengan
kuat oleh kon tol om Zul. om Zul merasakan jepitan kuat dibatang kon tolnya, dan ia merasakan dinding memek Sintia
berkedut-kedut, seolah-olah meremas-remas batang kon tolnya, om Zul merasakan nikmatnya memek Sintia itu yang belum
pernah dirasakannya seblemunya. Tak lama berselang om Zul mulai memaju-mundurkan kon tolnya didalam lubang memek
Sintia. “Oohh…enak om, terus tekan yang dalam..…,”desah Sintia, yang merasakan nikmatnya sodokan kon tol om Zul
dimemeknya.
Sementara itu aku juga sedang merasakan kenikmatan yang luar biasa, dari mulutku tidak hentinya terdengar erangan-
erangan keenakan dienjot oleh om Jamal dan om Idris. Kedua toketku juga tidak luput dari aksi om Jamal, remasan-remasan
tangan om Jamal dikedua toketku dan hisapan-hisapan serta jilatan-jilatan pada kedua pentilku membuat aku semakin
mengerang kenikmatan. om Idris juga merintih keenakan sambil terus menggenjot kon tolnya keluar masuk dalam lubang
pantatku.
Om Ahmed yang selama ini cuma nonton live show temen2nya gak tahan lagi rupanya, dia berlutut tepat dihadapan Sintia dan
segera menyodorkan kon tolnya kemulut Sintia yang langsung disambut oleh Sintia dengan penuh nafsu. sambil tangannya
memegangi kepala Sintia, om Ahmed menekankan dan menarik kepala Sintia sehingga kon tolnya keluar masuk mulut Sintia.
bibir Sintia menjepit kuat batang kon tol om Ahmed, kadang-kadang om Ahmed karena terlalu menekan kebawah kepala kon
tolnya menyentuh anak tekak Sintia, sehingga membuat Sintia tersedak, sementara om Zul terusmendorong kon tolnya keluar
masuk memek Sintia dari belakang. Tangan om Ahmed meremas-remas toket Sintia yang bergoyang kedepan dan kebelakang
seirama dengan sodokan-sodokan om Zul yang mengeluar masukkan kon tolnya dilubang memek Sintia. Sintia dibuat merem
melek oleh mereka berdua, desahan dan rintihan keenakan semakin sering keluar dari mulutnya yang sibuk menyepong kon
tol om Ahmed, tubuhnya gemetar menahan arus kenikmatan yang menerjang dengan kuat, Sintia merasakan lubang
memeknya berdenyut semakin cepat secepat sodokan-sodokan ****** om Zul, tubuhnya mulai bergetar hebat, paha dan
pantatnya mulai mengejut-ngejut, menyambut datangnya puncak kenikmatannya, tak lama kemudian Sintia melenguh
panjang, memeknya berdenyut-denyut menyemburkan lahar kenikmatannya menyirami batang kon tol om Zul. "Oohh, aku
kluar om, enak sekali..aahh,” lenguh Sintia. Tubuh Sintia bergetar dengan hebat, terlihat pantatnya mengejut-ngejut seirama
dengan keluarnya cairan kenikmatannya, kepalanya mendongak matanya terpejam, tangannya mencengkram paha om
Ahmed dengan kuat. om Zul merasakan remasan memek Sintia menyebabkan dia gak tahan juga akhirnya, “Uuhh Sin, aku
keluar juga...,” dia mengerang dan menekan dalam-dalam kon tolnya kedalam memek Sintia, dan kon tolnya memuntahkan
pejunya didalam lubang memek Sintia.
Gerakan om Idris yang sedang menyodok-nyodokkan batang kon tolnya didalam lubang pantatku semakin bertambah gencar,
akibatnya tubuhkupun maju mundur dengan cepat, kon tol om Jamal yang sedalam cengkraman memekkupun ikut keluar
masuk dengan cepat, kedua toketku berguncang maju mundur menerpa wajah om Jamal, om Jamal menyambut dengan
mulutnya dan menghisap-hisap toketku bergantian. Om Idris mengerang keenakan sambil terus mempercepat gerakannya.
Aku fak bisa nahan rangsangan lebih lanjut, aku duluan yang klimax, badanku menggetar sambil memeluk om Jamal erat2.
Om Jamal merasakan hangatnya lahar kenikmataku menyirami batang kon tolnya, dia merasakan denyutan kuat dinding
memekku seolah meremas-remas batang kon tolnya. lubang pantatkupun ikut mengempot kuat saat aku mencapai klimaks,
om Idris merasakan batang kon tolnya seolah dipijat-pijat oleh lubang pantatku. Selang tak lama tubuh ke dua om bergetar
dengan hebat, tubuh mereka meregang, puncak kenikmatan yang dinanti-nantikan oleh mereka akhirnya datang juga, tubuh
mereka kelojotan, gerakan tubuh mereka semakin tidak beraturan, hampir secara bersamaan mereka mengerang, kon tol
merekapun hampir berbarengan memuntahkan pejunya. Ke dua lubangku dipenuhi oleh peju yang menyembur keluar dari
batang kon tol om Idris dan Jamal.
Tinggal om Ahmed yang blon kebagian ngecret. Dia meninggalkan Sintia yang dah terkapar berdua dengan om Zul, dia
menghampiriku. Om Zul dan Idris kayanya masi belon puas juga. Mereka bertiga langsung mengeroyok aku.
Aku sepongin aja kon tol om Idris, sementara om Zul mulai menyerbu kedua toketku, kedua tangannya mulai meremas-remas
kedua toketku dan juga mulai menghisap-hisap kedua pentilku bergantian kiri dan kanan, sementara m Ahmed mulai
menyerbu memekku. Om Amed mulai menciumi dan menjilati itilku, sementara kedua tangannya menopang pahaku, aku mulai
mendesah-desah dengan mulutyang sedang penuh oleh kon tol om Idris.
Mendapat serangan di toket dan memekku membuat nafsuku semakin menggelora, jilatan dan hisapan-hisapannya dikon tol
om Idris semakin menggila, kedua pipinku terlihat mengempot saat aku menghisap kon tol om Idris dengan kuat, sehingga dia
mengerang keenakan. kedua tangannya memegangi kepalaku, dia menekan maju kepalaku, kon tolnya hampir seluruhnya
tertelan oleh mulutku. kepala kon tolnya menyentuh anak tekakku, membuat aku tersedak. Aku mencoba sedikit menarik
kepalaku kebelakang tapi hal itu tidak dapat kulakukan karena tangannya memegang kepalaku dengan kuat. OM Idris yang
sedang keenakan malah semakin menekan kepalaku dan mendorongkan kon tolnya semakin dalam didalam mulutku,
membuat aku semakin tersedak merasakan jejalan kon tolnya didalam mulutku. kepala kon tolnya sudah melewati anak
tekakku dan menyentuh tenggorokanku. Aku gelagapan dan agak sedikit susah bernafas dibuatnya, melihat itu om Idris mulai
menarik kon tolnya keluar dari mulutku. Aku menjadi lega dan bisa bernafas lagi, tapi baru saja aku mulai dapat bernafas lega,
om Idris mulai mendorong masuk lagi kon tolnya dalam-dalam kedalam rongga mulutku, dan kali ini kon tolnya masuk
seluruhnya, itu terlihat dari hidungku yang menempel di jembutnya. akibatnya kembali aku tersedak dan nafasnya megap-
megap lagi, begitu seterusnya om Idris memaju mundurkan kon tolnya dimulutku. Aku sendiri menjadi gelagapan dibuatnya,
bibir kukatupkan erat-erat sehingga batang kon tolnya tidak menerobos terlalu dalam dirongga mulutku. Om Idris yang
merasakan bibirku menempel kuat dibatang kon tolnya malah menjadi keenakan, gesekan dibatang kon tolnya malah lebih
terasa, apalagi aku menambahi dengan memainkan lidahku dibatang dan kepala kontolnya. Om Idris semakin mempercepat
gerakan maju mundurnya, kon tolnya berdenyut kencang, puncak kenikmatannya hampir ia rengkuh. aku merasakan kon
tolnya mulai berdenyut menambahi aksiku dengan mulai mengelus-ngelus biji pelernya. Akibatnya tak lama berselang om Idris
mendengus keras. Dia sudah sangat terangsang tidak dapat lagi menahan puncak birahinya, kon tolnya yang sedang keluar
masuk mulutku mulai berdenyut dengan kuat, tubuhnya mulai bergetar hebat, kedua kakinya gemetaran menahan hasrat
birahinya yang hampir keluar, tak lama berselang tubuhnya menggigil hebat saat kon tolnya ia tekan dalam-dalam kedalam
mulutku, kon tolnya menyemburkan pejunya didalam mulutku. aku kelabakan dibuatnya, pejunya langsung tertelan olehku
karena kon tolnya yang terbenam dalam-dalam didalam mulutku. Aku merasakan semburan kuat menghantam dinding
tenggorokanku. Aku tersedak dan terbatuk-batuk dibuatnya, sementara om Idris yang sedang meraih puncak kenikmatannya
itu mengerang keenakan, pantatnya mengejut-ngejut seiring dengan kon tolnya yang sedang mengejut-ngejut memuntahkan
pejunya. Aku terbatuk-batuk dan menelan pejunya yang langsung masuk ditenggorokanku.
masih dengan terbatuk-batuk aku mendesah keenakan lagi merasakan nikmat saat itilku dihisap-hisap oleh om Ahmed dan
permainan om Zul ditoketku. Aku segera melepaskan diri dari om Ahmed yang sedang asyik menghisap-hisap itilku. om
Ahmed berbaring dikarpet. aku memundurkan pantat kebelakang, kuraih kon tolnya, lalu kuoles-oleskan kebibir memek dan
itilku. Aku merasakan geli saat kepala kon tolnya menyentuh bibir memekku dan terutama ketika menyentuh itilku. Aku
mendesah-desah, dan kepala kon tolnya kuselipkan dilubang memekku, dan tanpa membuang waktu lagi aku menekan
pantatku kebawah. dengan sekali hentakan kuat aku menekan pantat kebawah. kon tolnya akhirnya terbenam seluruhnya
didalam rongga memekku. Aku dan om ahmed mengerang bersamaan saat kepala kon tolnya menerobos masuk dengan kuat
dalam lubang memekku. Sambil mendiamkan sebentar kon tolnya dalam jepitan memekku, aku memeluk om Idris dan
menciumi bibirnya.
Om Zul pengen juga meniru aktivitas om Idris, dia menyelipkannya kon tolnya dilubang pantatku. Aku merintih saat kepala
kon tolnya mulai menerobos lubang pantatku. Om Ahmed merasakan memekku semakin menjepit erat kon tolnya saat kon tol
om Zul mulai masuk dilubang pantatku. Om Zul merasakan lubang pantatku menjepit kuat batang kon tolnya, ia mendorong
masuk perlahan-lahan kon tolnya didalam lubang pantatku, dia merasakan eratnya dinding lubang pantatku mencengkram
batang kon tolnya. Akhirnya kon tolnya terbenam seluruhnya didalam lubang pantatku. Ke 2 om itu merasakan batang kon tol
mereka seperti sedang diremas-remas oleh dinding memek dan lubang pantatku. Aku merasakan kedua lubangku penuh
sesak oleh jejalan ******. Aku mengerang keenakan, aku mulai menggerakkan pantat maju mundur perlahan-lahan. kon tol ke
2 om mulai keluar masuk dilubangku, gerakan maju mundurku belum terlalu lancar karena kedua lubangku menjadi tambah
sempit akibat kedua kon tol besar yang menyumpal penuh memek dan lubang pantatku. Erangan dan rintihankunya tidak
berhenti keluar dari mulutku, mataku merem melek menikmati keluar masuk kon tol ke 2 om itu.-ke 2 om itu sendiri
merasakan kenikmatan yang luar biasa, kon tol mereka terjepit dengan erat oleh lubangku, pergesekan batang kon tol
mereka dengan dinding lubangku sangat terasa sekali di kulit batang kon tol mereka, merekapun melenguh dan mendesah
keenakan. Mereka mulai mengimbangi gerakanku maju mundur, mereka menekan dalam-dalam batang kon tol mereka di
lubang ku.
Memekku yang semakin basah mempermudah keluar masuk batang kon tol om Ahmed, om Ahmed dengan bertubi-tubi
menyodokkan kon tolnya keatas kedalem memekku. Aku melenguh, tubuhku melenting, mataku terbelalak saat ujung kepala
kon tolnya menyentuh mulut rahimku. rintihanku keluar terus menerus saat menerima sodokan kon tolnya. Dia juga
mengerang sambil terus mengeluar masukkan batang kon tolnya. kemudian dia menekan kon tolnya dalam-dalam dilubang
memekku, kon tolnya mengejut-ngejut menyemburkan pejunya di lubang memekku. aku merasakan mulut rahimku hangat
oleh semprotan sperma pejunya. "Aahh Sin, aku keluar¡*memekmu betul enak..", dia mengerang.
Aku juga menggelepar ketika memekku disiram peju angetnya om Ahmed, pantatku mengejut-ngejut ketika memekku
berdenyut-denyut kuat ketika aku nyampe. Hal ini menambah remasan di kon tol om Zul yang terbenam di pantatku. Om Zul
menghujam dalam-dalam kon tolnya dilubang pantatku, kon tolnya mengejut-ngejut mengeluarkan pejunya. Kita ber 3
terkapar saking puasnya. Sintia dan om Jamal sudah terlelap karrna capek menikmati pesta sex ini.
Setelah acara pesta sex dengan 4 om arab, om Idris kontak aku lagi, "Nez, santai yuk ma aku dan Zul di hotel, nti aku kasi
kamu honor sebulan gaji kamu deh, Zul juga mo ngasi honor sebulan gaji kamu". Wah asik juga tu, dikerjain semaleman dikasi
honor 2 bulan gaji, biar gajiku UMR juga. "Kudu nanya om Ahmed dulu om, kan Inez kerja ma dia". "Soial itu mah bisa diatur
Nez, yang penting kamunya mau enggak". "Inez si mau banget om, bisnya nikmat banget dimasukin pisang tanduk gitu". "Bisa
aja kamu Nez, ok deh nti kukontak kamu lagi lo dah beres semuanya". Lama gak da kabar dari dia, kukira dah batal
rencananya. Ku heran juga kenapa om Idris penasaran banget pengen ngn totin aku, apdahal aku biasa2 aja, gak da yang
istimewa dibadanku. Sedikit gambaran fisik tentang diriku, umur saat ini masi kepala 1, cuma DO kelas 10, berkulit putih,
berambut lurus sepundak, dengan toket yang sekal, gak besar si malah bisa dibilangimut, tinggi 155 cm, berat 45 kg, dengan
perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggul serasi dengan bentuk badan dan kedua bongkahan pantatku yang indah.
Secara terus terang memang kuakui juga penampilan om Idris tidak mengecewakan. Bentuk tubuhnya pun kekar dan atletis
dengan perut yang six packs.
Aku dah lupa ma rencana itu, tiba2 om Idris kontak aku, "nez, dah beres semua, om Ahmed gak keberatan, malming nanti
kujemput ya". "Keroyokan lagi ya om". "Gak lah, aku mau nikmatin kamu sendiri aja Nez, bis tu baru giliran Zul". "iya deh om".
Pada harinya aku dah siap2, aku merapikan wajahku dan memilih gaun yang agak seksi. Dari cermin rias di kamarku, kudapati
gaun yang kukenakan terlihat agak ketat melekat di tubuhku sehingga bentuk lekukan tubuhku terlihat dengan jelas. Toketku
yang imut kelihatan sedikit menonjol. Sambil mematut-matutkan diri di muka cermin aku memperhatikan penampilan
keseluruhan bentuk tubuhku. Kudapati bentuk keseluruhan tubuhku ramping dan seimbang. Toketku yang imut tapi kelihatan
kenyal. Demikian pula bentuk pantatku kelihatan agak menonjol. Ditambah lagi kulitku yang memang putih bersih membuat
bentuk keseluruhan tubuhku menarik untuk diliat. Mungkin itu yang mebuat ke 2 om itu napsu banget pengen ngen totin aku
lagi malem ini. Om Idris menjemputku sesuai waktu yang dijanjikan, pake cipika cipiki dulu lagi. "Wah kamu cantik banget
Nez, mana sexy lagi". "Ah om bisa aja, sexy dari Hongkong". "Iya Nez, kamu biar imut tapi sexy banget deh, dah siap kan, yuk
brangkat". Dia menggandeng aku ke mobilnya, membukakan pintu mobilnya untuk aku. "Kita kemana om". "Ke rumahku aja
ya, gak apa kan, kosong kok rumahnya". "Asal gak ganggu keluarga aja om". "Keluargaku gak disini kok Nez, aku bujang
disini, Zul juga", jawabnya sambil tertawa. Sampe dirumahnya, om Zul menjemput di pintu, dia juga cipika cipiki ma aku,
mesra banget ni 2 om malem ini ke aku. Kita bertiga langsung santap amlem, om idris dah siapkan makan malem yang
berlebih lauknya, sampe aku bingung mo makan yang mana. Mereka meladeni aku, mengambilkan aku nasi dan lauk pauknya,
mengambilkan aku minum, wah pokoknya aku diistimewakan deh malem ni, Seperti biasa lelaki suka ngegombal, mereka juga
ngegombal terus sepanjang acara makan malem. Biar itu gombal banget tapi aku seneng ja, serasa disanjung gitu. Itu
bodonya prempuan kali ya, dah tau digombali masi juga ngerasa disanjung.
Setelah makan malam kita duduk di taman belakang rumah om Idris, tajir banget deh si om, rumah besar mewah masi ada
taman luas lagi diblekangnya. Mereka ngobrol santai sambil menghabiskan beberapa kaleng bir. Aku gak biasa minum
alkohol, jadi om idris menyiapkan minuman kaleng macem2 buat aku. "Bisnya aku gak tau kamu suka minuman apa, jadi
kubeli j macem2 buat kamu nez". "Makasi om, perhatian banget si om ke aku". Mereka terus ja ngegombali aku, aku cuma
senyum2 seneng aja. Malem makin larut dan hawa pelan2 mulai terasa dingin. Mereka mengajak aku amsuk ke rumah. aku
masuk ke kamar mandi untuk menukan gaunku dengan baju tidur nylon yang tipis tanpa BH sehingga toketku terlihat
membayang di balik baju tidur itu. Aku sengaja membawa baju tidur sexy untuk ngeramein aja. Ketika aku keluar, ke 2 om
agak terhenyak untuk beberapa saat, padahal di pesta sex kemaren mreka dah meliat aku telbul. Akan tetapi mereka segera
dapat menguasai dirinya kembali dan om Idris kedipin mata ke om zul, om zul segera menyingkir ke lantai atas.
om Idris mengajakku segera masuk ke kamar tidur. Dikamar dia langsung melingkarkan tangan di dadaku dan menyentuh
toketku dari luar daster. aku segera merebahkan diri bertelungkup di atas tempat tidur. Kemudian om Idris menarik tanganku
dan meletakkannya di atas pangkuannya. Sementara itu bibirnya mulai menyusur leher dan belakang telingaku yang paling
sensitif. Aku langsung ditariknya, pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap toketku yang sebelah kanan,
sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggungku sambil mulutnya melumat bibirku dengan gemas. Tangan om
Idris yang berada di toketku disisipkan pada belahan daster yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung pentilku
yang telah mengeras. om Idris mendorongku perlahan-lahan sehingga yelentang di ranjang. Jemarinya mulai meremas-remas
toketku dan memilin-milin pentilnya. Saat itu aku masih belum total terhanyut tetapi ternyata om Idris jagoan juga dan dalam
waktu mungkin kurang dari 10 menit aku mulai mengeluarkan suara mendesis yang tak bisa kutahan. Kulihat dia tersenyum.
Dan menghentikan aktivitasnya. Kini om Idris berusaha membuka baju tidurku belum selesai berpikir beberapa saat kemudian
aku merasakan tarikan lembut di pahaku dan merasakan hawa dingin AC di kulit pahaku yang berarti celana dalamku telah
dilepas. om Idris menelanjangi diriku dengan seenaknya sampai aku benar-benar dalam keadaan bertelanjang bulat tanpa ada
lagi sehelai benang pun yang menutupi tubuhku. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, aku mengusap-usap kon tol om
Idris yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana om Idris terlihat menggembung besar. Kemudian om Idris
menarik tanganku ke arah resluiting celananya yang telah terbuka dan menyusupkan tanganku memegang kon tol om Idris
yang telah tegang itu. Jilatan-jilatan om Idris di bagian tubuhku yang sensitif membuatku bergelinjang dengan dahsyat
menahan arus birahi. Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian om Idris berdiri di hadapanku dan membuka celananya
sehingga kon tolnya tiba-tiba melonjak keluar. Kini om Idris berada dalam keadaan bertelanjang bulat. kon tol om Idris yang
sangat besar dan panjang itu. Batang kon tolnya kurang lebih berdiameter 5 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan
pada ujung kepalanya yang sangat besar, panjangnya mungkin kurang lebih 18 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi
dengan rambut keriting yang lebat. Kulitnya agak tebal, terus ada urat besar di sisi kiri dan kanan yang terlihat seperti ada
cacing di dalam kulitnya. Kepala kon tolnya tampak kompak, penuh dan agak berkerut-kerut. Garis lubangnya tampak seperti
luka irisan di kepala kon tolnya. Kemudian dia menyodorkan kon tolnya ke hadapan wajahku. aku segera menggenggam kon
tolnya dan terasa hangat dalam telapak tanganku. Aku memegangnya perlahan, terasa ada sedikit kedutan terutama di
bagian uratnya. Lingkaran genggamanku tampak tak tersisa memenuhi lingkaran batangnya. kuraih kon tol om Idris itu ke
dalam mulutku menjilati seluruh permukaannya dengan lidahku kemudian kukulum dan hisap sehebat-hebatnya. Kuluman dan
hisapanku itu membuat kon tol om Idris yang memang telah berukuran besar menjadi bertambah besar lagi. dari kon tol om
Idris yang sedang mengembang keras dalam mulutku kurasakan ada semacam aroma yang khas yang menimbulkan suatu
rasa sensasional dalam diriku membuatku bertambah gemas dan semakin menjadi-jadi menghisap kon tol itu lebih hebat lagi
secara bertubi-tubi. Kuluman dan hisapanku yang bertubi-tubi itu rupanya membuat om Idris tidak tahan lagi.
Dengan keras dia menghentakkan tubuhku dalam posisi telentang di atas tempat tidur. Aku segera membuka kedua belah
pahaku lebar-lebar. Sambil berlutut mendekatkan tubuhnya di antara pahaku, kedua tangannya membuka pahaku sehingga
slangkanganku terkuak tepat menghadap pinggulnya karena ranjangnya tidak terlalu tinggi. Itu juga berarti bahwa sekian
saat lagi akan ada sesuatu yang akan menempel di permukaan memekku. Benar saja, aku merasakan sebuah benda tumpul
menempel tepat di permukaan memekku. Tidak langsung diselipkan di ujung lubangnya, tetapi hanya digesek-gesekkan di
seluruh permukaan bibirnya, membuat bibir memekku terasa monyong-monyong kesana kemari mengikuti arah gerakan
kepala kon tolnya. aku merasakan rasa nikmat yang benar-benar bergerak cepat di sekujur tubuhku dimulai dari titik gesekan
itu. Beberapa saat om Idris melakukan itu, cukup untuk membuat tanganku meraih tangannya dan pahaku terangkat menjepit
pinggulnya. Aku benar-benar menanti puncak permainannya.
om Idris menghentikan aktivitasnya itu dan menempelkan kepala kon tolnya tepat di antara bibir memekku dan terasa bagiku
tepat di ambang lubang memekku. Aku benar-benar menanti tusukannya. "Oohh," tak sabar aku menunggunya. Tiba-tiba aku
merasakan sepasang jemari membuka ke kiri dan ke kanan bibir memekku. aku merasakan sebuah benda tumpul dari daging
mendesak di tengah-tengah bentangan bibir itu. Perlahan-lahan om Idris mulai memasukkan kon tolnya ke memekku. Aku
berusaha membantu dengan membuka bibir memekku lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk kon tol sebesar itu masuk
ke dalam lubang memekku yang kecil. Tangan om Idris yang satu memegang pinggulku sambil menariknya ke atas, sehingga
pantatku agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang kontolnya yang diarahkan
masuk ke dalam memekku. Pada saat om Idris mulai menekan kon tolnya, aku menjerit tertahan, "Aduh, sakit om, pelan2
om..." Om Idris agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberiku kesempatan untuk mengambil nafas, kemudian
om Idris melanjutkan kembali usahanya untuk memasukkan kon tolnya. Sementara itu batang kon tol om Idris mulai
mendesak masuk dengan mantap. Sedikit demi sedikit aku merasakan erisinya ruangan dalam liang memekku. Aku
menggelinjang ketika merasakan kepala kon tolnya mulai melalui liang memekku, diikuti oleh gesekan dari urat-urat
batangnya setelahnya. Aku hanya mengangkang merasakan desakan pinggul om Idris sambil membuka pahaku lebih lebar
lagi. Aku mulai merasakan perasaan penuh di memekku dan semakin penuh seiring dengan semakin dalamnya batang itu
masuk ke dalam memekku. Sedikit suara lenguhan kudengarkan dari om Idris ketika seluruh batang itu amblas masuk.
Rasanya seperti terganjal dan untuk menggerakkan kaki saja rasanya agak susah. Sedikit demi sedikit aku mulai merasa
nyaman. Saat itu seluruh batang kon tol om Idris telah amblas masuk seluruhnya di dalam liang memekku. Tanpa sengaja aku
terkejang seperti menahan kencing sehingga akibatnya seperti meremas batang kon tol om Idris. Aku agak terlonjak sejenak
ketika merasakan kon tol om Idris itu menerobos ke dalam liang memekku dan menyentuh bibir rahimku. Oleh karena itu
secara refleks aku mengangkat kedua belah pahaku tinggi-tinggi dan menjepit pinggang om Idris erat-erat untuk selanjutnya
aku mulai mengoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan tubuh om Idris. Tanganku memegangi lengannya yang
mencengkeram pinggulku. Aku menariknya kembali ketika om Idris menarik kon tolnya dan belum sampai tiga perempat
panjangnya kemudian menghunjamkannya lagi dengan kuat. Aku nyaris menjerit menahan lonjakan rasa nikmat yang
disiramkannya secara tiba-tiba itu. Begitulah beberapa kali om Idris melakukan hujaman-hujaman ke dalam liang
memekku.Setiap kali hujaman seperti menyiramkan rasa nikmat yang amat banyak ke tubuhku. Aku begitu terangsang seiring
dengan semakin seringnya permukaan dinding lubang memekku menerima gesekan-gesekan dari urat-urat batang kon tol om
Idris. om Idris menggenjotku dengan irama gerakan yang konstan tidak cepat dan tidak lambat. Tapi anehnya justru bagiku
aku semakin bisa merasakan setiap milimeter permukaan kulit kon tolnya. Pada tahap ini, seperti sebuah tahap ancang-
ancang menuju ke sebuah ledakan yang hebat, aku merasakan pahaku mulai seperti mati rasa seiring dengan semakin
membengkaknya rasa nikmat di area selangkanganku. Tubuh kami sebentar menyatu kemudian sebentar lagi merenggang
diiringi desah nafas kami yang semakin lama semakin cepat.
Setelah agak beberapa lama kami bergumul tiba-tiba om Idris menghentikan gerakannya dan mengeluarkan kon tolnya yang
masih berdiri dengan tegar dari liang memekku. Selanjutnya dia membungkukkan tubuhku ke pinggir ranjang aku kini berada
dalam posisi menungging. Dalam posisi yang sedemikian om Idris menyodok memekku dari belakang dengan garangnya
sehingga dengan cepat aku telah mencapai puncak terlebih dahulu. Begitu aku sedang mengalami puncak ejakulasi, om Idris
menarik kon tolnya dari liang memekku, dia berbaring dan minta aku berada di posisi atas. Selanjutnya dengan spontan kuraih
kon tolnya dan memandunya ke arah liang memekku. Kemudian kutekan tubuhku agak kuat ke tubuh om Idris dan mulai
mengayunkan tubuhku turun-naik di atas tubuhnya. Mula-mula secara perlahan-lahan akan tetapi lama-kelamaan semakin
cepat dan kuat sambil berdesah-desah kecil. Sementara itu om Idris dengan tenang telentang menikmati seluruh permainanku
sampai tiba-tiba kurasakan suatu ketegangan yang amat dahsyat dan dia mulai mengerang-erang kecil. Dengan semakin
cepat aku menggerakkan tubuhku turun-naik di atas tubuh om Idris dan nafasku pun semakin memburu berpacu dengan
hebat menggali seluruh kenikmatan tubuh laki-laki yang berada di bawahku. Tidak berapa lama kemudian aku menjadi
terpekik kecil mencapai puncakku dan tubuhku langsung terkulai menelungkup di atas tubuh om Idris.
Setelah beberapa saat aku tertelungkup di atas tubuh om Idris, tiba-tiba dia bangkit dengan suatu gerakan yang cepat.
Kemudian dengan sigap dia menelentangkan tubuhku di atas tempat tidur dan mengangkat tinggi-tinggi kedua belah pahaku
ke atas sehingga liang memekku yang telah basah kuyup tersebut menjadi terlihat jelas menganga dengan lebar. Selanjutnya
om Idris mengacungkan kon tolnya yang masih berdiri dengan tegang itu ke arah liang memekku dan menghunjamkan
kembali kon tolnya tersebut ke memekku dengan garang. Aku menjadi terhentak bergelinjang kembali ketika kon tol om Idris
mulai menerobos dengan buasnya ke dalam memekku dan membuat gerakan mundur-maju dalam liang memekku. Aku pun
kini semakin hebat menggoyang-goyangkan pinggulku mengikuti alunan gerakan turun-naiknya kon tol om Idris yang semakin
lama semakin cepat menggenjotkan di atas tubuhku. Aku merasakan betapa liang memekku berusaha menghisap dan
melahap kon tol om Idris yang teramat besar dan panjang itu. Selama pertarungan itu beberapa kali aku terpekik agak keras
karena kon tol om Idris tegar dan perkasa itu menghujam lubang memekku. Akhirnya kulihat om Idris tiba juga pada
puncaknya. Dengan mimik wajah yang sangat luar biasa dia mencapai puncaknya secara bertubi-tubi menyemprotkan seluruh
pejunya ke dalam tubuhku dalam waktu yang amat panjang. Sementara itu kon tolnya tetap dibenamkannya sedalam-
dalamnya di liang memekku sehingga seluruh cairan pejunya habis.
Selanjutnya kami terhempas kelelahan ke tempat tidur dengan tubuh yang tetap menyatu. Selama kami tergolek, kon tol om
Idris masih tetap terbenam dalam tubuhku, dan aku pun memang berusaha menjepitnya erat-erat karena tidak ingin segera
kehilangan benda tersebut dari dalam tubuhku. Setelah beberapa lama kami tergolek melepaskan lelah, om Idris mulai
bangkit dan menciumi wajahku dengan lembut yang segera kusambut dengan mengangakan mulutku sehingga kini kami
terlibat dalam suatu adegan cium yang mesra penuh dengan perasaan. Sementara itu tangannya dengan halus membelai-
belai rambutku. Suasana romantis ini akhirnya membuat gairah kami muncul kembali. Kulihat kon tol om Idris mulai kembali
menegang tegak sehingga secara serta merta om Idris segera menguakkan kedua belah pahaku membukanya lebar-lebar
untuk kemudian mulai ngen totin aku kembali. Walaupun baru aja ngecret, om Idris masih tetap saja kelihatan bugar. kon
tolnya pun masih tetap berfungsi dengan baik melakukan tugasnya keluar-masuk liang memekku dengan tegar hingga
membuatku menjadi agak kewalahan. Aku telah terkapar lunglai dengan tidak putus-putusnya mengerang kecil karena terus
-menerus mencapai puncak berkali-kali namun kon tol om Idris masih tetap tegar bertahan. Suasana ini berakhir dengan
tibanya kembali puncak om Idris yang dahsyat, pejunya kembali menyembur2 dalam memekku. Aku benar-benar kelelahan
dan langsung tergolek di tempat tidur untuk kemudian terlelap.
Gak tau aku tertidur berapa lama. aku terbangun karena ada elusan di pahaku. Kulihat om zul senyum kepadaku, "Masih
lemes ya Nez". Aku jadi teringat kalo aku juga kudu muasin om Zul. Lumayan tidur gak tau brapa lama bikin tubuhku rada
segeran. "Aku siram badan dulu ya om, biar tambah seger". Aku masuk ke kamar mandi dan membilas badanku dibawah
shower air hangat, seger rasanya badan tersiram air hangay. aku sekalian aja keramas supaya ngantukku bener2 ilang.
Cukup lama aku membersihkan badanku, setelah selesai, ku lap rambut dengan anduk dan badanku dangan anduk laennya.
aku membungkus rambutkud engan anduk dan badan ku lilit dengan anduk satunya. Aku keluar kamar, kuliat om Zul sudah
menyediakan kopi dan teh anget. "Aku gak tau kamu suka minum apa Nez, makanya kubuatkan aja teh dan kopi. Blon
digulain, kamu yg gulain sendiri ya sesuai dengan takaran manis yang kamu suka. Kamu dah manis banget jadi jangan pake
gula banyak2". Aku senyum aja mendengar candaannya. "Om lama ya nunggunya, om Idris gak puas2 si, sekarang om
Idrisnya mana". "Dia tidur dikamar diatas, kamu minum aja, ni ada biskuit dimakan aja sambil dicelupin ke minuman anget,
enak kan". Perhatian banget om Zul ke aku, padahal dia pasti dah naek ke otak nunggu gilirannya ngen totin aku berikutnya.
Aku makan biskuit dan minum kopi yang dah dia sediain dengan santai aja, biar aja dia makin menggebu nunggu akus iap
ngeladenin napsunya, tapi om Zul kliatan santai aja, gak kliatan lo gi naek ke otak napsunya.
Setelah selesai makan dan minum, aku berbaring diranjang, om Zul segera mengurai anduk yang melilit rambutku, di lapnya
lagi rambutku yang masi setengah basah, gak bisa sampe kering si, trus disisirinya rambutku pake jarinya, mesra banget si ni
om yang satu ini. Dia melepaskan anduk yang melilit badanku. Dia dengan cepat mencium bibirku, Lidahnya terus mendesak
masuk ke mulutku . Lidahnya bermain dalam mulutku, menyapu ke sana kemari , mengelitik mulutku . Lidahku pun ikut
bermain, birahiku meninggi lagi. Tangannya mulai meraba toketku, meremas pelan selembut mungkin . Tangan satunya
merabai pahaku. Memekku mulai terasa basah dan aku semakin bernapsu jadinya. Dia kemudian melumat pentilku, Lidahnya
terus bermain di pentilku. Toketku yang satunya mendapat sentuhan , rabaan , dan remasan lembut tangan kirinya. Birahiku
semakin meningkat . Dan sekarang tangannya membuka kakiku lebar , kepalanya mendekati slangkanganku . Hidungnya
menghirup aroma memekku. Matanya nanar menyaksikan memekku, belahannya masih terasa sempit dengan bulu jembut
halus yang tumbuh subur di bukit memekku . Dengan dua jarinya dia membelah bibir memekku dan menemukan itilku yang
merah, serta liang memekku yang tampak basah. Lidahnya pun menjulur , menjilati memekku sehingga aku mengerang,
menggeliat, ” aahh enak om...". Lidahnya terus saja menyapu memekku . bergerak cepat di itilku yang terlihat semakin
tegang. Aku pun terus mengerang nikmat kerna Lidahnya semakin liar menyapu memekku.
Kontolnya sudah tegang sekali . Dia menyodorkan kontolnya ke mulutku. Aku meraba-raba kontolnya, kucium kepalanya,
kujilat, kugesekkan ke pipiku. Dia merem-melek karenanya. Kemudian batang kon tolnya kuremes dan kuarahkan ke mulutku
lalu kukulum. ”aahh Nez, enak...,” erangnya sambil meremasi rambut Cindyku. Kontolnya bergerak dalam mulut ku , maju
mundur . aku mencoba memasukkanya seluruh batang kon tolnya hingga menyodok di tenggorokan. Aku mengalami kesulitan
dengan ukuran kon tolnya, dan hampir tersedak untuk beberapa waktu. Dia rupanya dah gak bisa nahan napsunya, kon tolnya
dikluarkan dari mulutku.
Dia menaiki aku yang dah telentang diranjang, dia sudah bernafsu segera mengarahkan kon tolnya ke memekku. Kepala kon
tolnya menempel di liang memekku. Perlahan- lahan kont ol yang besar itu menyesaki ruang di liang memekku. aku mengigit
bibirku dan dia terus menekan , hingga kon tolnya mentok di dalam memekku. Perlahan dia menarik kon tolnya dari liang
memekku, aku mengerang, dia juga, "gila , enak bener memek kamu Nez|”. Dia terus mengerakkan kon tolnya dalam
memekku. mulutnya langsung melumat pentilku lagi sambil terus menggenjot memekku, dia melakukan gigitan-gigitan ringan,
kadang dijilatinya pentilku yang tampak menonjol , mengeras itu . ”aahh om, aku gak kuat, enak banget,|” erangku. Dia terus
bergerak , kon tolnya keluar masuk liang memekku yang dah basah. Tubuhku terus mengeliat saking nikmatnya . Rasa
orgasme semakin mendekati aku, ”aahh aku sudah hampir om.. terus.” erangku. om Zul yang sudah pengalaman dalam
bercinta , tahu aku segera orgasme , gerakan kon tolnya menjadi semakin liar , menghentak hentak dengan ganasnya. dan
akhirnya tubuhku mengejang. ”aahh aku keluar om..” erangku, lalu tubuhku mengejet beberapa kali . Dia memperlambat
gerakan kon tolnya , dan merasakan , ada getaran di dalam memekku. Liang memekku semakin basah lalu tak lama kemudian
dia merasa kon tolnya seperti terendam cairan yang hangat. Setelah beberapa saat , aku kembali mengerang. Saat dia
kembali mengerakan kon tolnya dengan cepat dalam liang memekku, cairan orgasme itu memperlancar keluar-masuknya kon
tolnya sehingga otomatis sodokannya pun semakin keras. aku terus mengerang selama hampir lima menit , sebelum akhirnya
dia menyemburkan pejunya dalam memekku. ” ohh .. enak banget Nez, ” dia melenguh . Lalu perlahan menarik keluar kon tol
besarnya, heran aku melihat kon tolnya masi ja ngaceng dengan kerasnya. Bersamaan dengan tercabutnya kon tolnya,
pejunya yang kental juga meleleh keluar dengan deras dari liang memekku.
om Zul langsung mendorong tubuh aku merangkak di ranjang dan memposisikan dirinya di belakang aku. Kupikir dia akan
memasuki aku dari belakang lagi, kayanya ketagihan masuk pantat juga ni om, ketularan om Idris kayanya. dia melebarkan
lubang pantatku dan menekan kepala kon tolnya yang besar membelah otot lubang pantatku yang rapat. aku menggelinjang
jadinya , dia mencengkeram dengan erat pinggulku sampai meninggalkan bekas di sana. Lalu dia mulai menekan masuk kon
tolnya membelah lubang pantatku. aku tak menyadarinya, tapi matanya terpejam rapat ketakutan, yang malah membuat om
Zul dan aku semakin bergairah. Pada akhirnya usahanya berhasil dan mendorong kepala kon tolnya masuk ke dalam lubang
pantatku. Dia terus mendorong sampai akhirnya batang kon tolnya masuk ke dalam lubang pantatku seluruhnya hingga
kantung biji pelernya menghantam itilku. Dengan kon tolnya yang sudah seluruhnya tertanam dalam lubang pantatku, dia
memegangi pinggulku dengan erat dan mulai bergerak mengayun kon tolnya keluar masuk. Gerakan mengayunnya membuat
suara aneh saat kantung biji pelernya menghantam itil dan memekku berulang-ulang. lubang pantatku melebar dengan rapat
mencengkeram batang kon tolnya. Setiap kali dia menarik kon tolnya keluar, lubang pantatku juga tertarik keluar. Mendadak
dia menyodok kon tolnya dengan sebuah hentakan keras sambil tangannya melebarkan bongkahan pantatku agar dia dapat
masuk sedalam mungkin. Tubuhku terus menggelinjang dibawah enjotan kon tolnya. Dengan sigap dia terus memegangi
pinggulku dan terus menggenjot lubang pantatku dengan ganas, sampai akhirnya dia mencapai orgasmenya sendiri. Dia
memuncratkan pejunya lagi kemudian jatuh terhempas di atas pantat aku. Pejunya muncrat masi banyak juga biar tadi dah
muncrat di memekku, sampe meleleh keluar dari lubang pantatku. Apalagi ketika dia mencabut kon tolnya, pejunya
membentuk lelehan panjang turun dari pantatku. dia tergeletak di sebelah aku, "Nikmat banget malem ini Nez..."
_THE END_
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Home
»
Cerita Dewasa Sex 18++
»
Cerita Dewasa Sex 18++ : Pesta Seks/Gangbang
» Pesta bersama Om Arab
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar