Grab This Gadget »

Rrr… rrr… Hp Joe bergetar, membuat kakinya sedikit terkejut. Joe meraih Hp dari saku celananya dan melirik perlahan. NEW INCOMING MSG dari tante Neneng Sri Wahyuni. “Aku menginginkanmu, 5pm.” begitu bunyi pesan terbaru di Hp-nya.

Mata kuliah Linguistics ini begitu membosankan. Dosen muda dan cantik tak membuat Joe antusias mengikutinya. Ia memang benci mata kuliah satu ini.

Sore… kenapa mesti sore?

Joe memutar otak dan bertanya-tanya sambil memainkan penanya. Aneh, dua tahun menjadi teman Neneng, baru kali ini tante itu mengajak berkencan sore hari.

Suka tidak suka, tugas harus dijalani.

Tante Neneng sudah membiayai sebagian hidup Joe. Uang kuliah, kost, gym, bahkan sepeda motor yang Joe gunakan adalah budi baik tante Neneng. Semua itu cukup dengan satu syarat, yaitu Joe mesti siap kapan pun tante butuhkan.

Tante Neneng bukan orang sembarangan. Ia istri salah satu politisi terkenal di negeri ini. Usianya pun belum tua-tua amat, tubuhnya masih tetap segar, berisi dan tentu penuh gelora.

Petualangan dengan tante Neneng sebetulnya sesuatu yang menyiksa lahir dan batin. Di ranjang ia tak akan pernah berhenti sampai merasakan kepuasan berkali-kali. Ia akan menawan lalu mengoyak-ngoyak Joe bak singa betina yang kelaparan.

Meneteskan lilin panas di perut Joe adalah kesukaannya. Ia akan tertawa melihat Joe meringis pedih. Joe diperlakukan bak pesakitan dan Joe tak bisa menolak. Rintihan Joe adalah kenikmatan bagi tante Neneng. Erangan Joe adalah amunisi untuk serangan berikutnya. Sampai tubuhnya penuh dengan bilur-bilur.

***

Sore hari, Joe sudah berada di lift yang akan mengantarnya pada lantai 21 gedung bertingkat 40 itu. Lift berhenti dan Joe keluar belok kanan menuju kamar no. 2108. Joe mencari-cari kunci elektronik berbentuk kartu dari dompetnya.

Sudah setahun ini tante Neneng membeli apartemen kelas atas ini khusus untuk mereka berdua. Cukup riskan baginya bertemu Joe di hotel. Di sini aman, dari basement tempat parkir mobil, masuk lift lalu bisa cepat ke kamar. Tanpa banyak bertemu orang. Pokoknya privacy mereka sungguh terjaga.

Joe masuk, tas punggung dilempar sekenanya di sofa lalu berjalan ke dapur. Diambilnya sekaleng diet coke dan beberapa butir anggur dari kulkas. Walau apartemen ini jarang ditempati, tapi selalu bersih. Tante membayar pihak ketiga untuk merawatnya.

Joe berdiri di balik jendela, memandangi jalanan protokol yang mulai ramai dan macet. Orang-orang ingin bergegas pulang. Langit Jakarta meredup lebih awal karena gerimis dan lampu kota mulai dinyalakan.

Joe menarik nafas panjang. Kapan ini semua akan berakhir, pikirnya. Sesungguhnya ia jenuh dan lelah dengan profesi sebagai gigolo. Kadang dibebani perasaan hina dan berdosa kepada Tuhan dan orangtua. Walau begitu, dalam doa ia selalu minta agar lepas dari itu semua.

Handphone Joe berbunyi saat ia usai mandi.

“Sori macet… 15 menit baru nyampe kayaknya nih… ok ya,” begitu suara di seberang berkata.

Lalu Klik... percakapan diputus.

Joe tak ingin mengecewakan tante Neneng. Ia harus menberikan pelayanan yang extra baik pada wanita itu. Joe sekarang hanya mengenakan celana dalam kulit dan bertelanjang dada, wangi parfum maskulin menyeruak dari tubug atletisnya. Disusunnya di ranjang buatan Italy sebuah cemeti yang terbuat dari kulit, stick rotan, borgol, serta penutup mata hitam. Joe juga menyiapkan beberapa buah lilin di atas meja.

Joe melirik arloji lalu ke dapur mengambil segelas air putih dan meminumnya bersama sebutir pil berwarna biru. Dia menunggu di kamar dalam posisi siap diterkam. Begitulah selalunya. Tanpa babibubebo… pertarungan dimulai dan Joe harus jadi pihak yang kalah. Prinsip tante Neneng adalah veni vidi vici, datang – lihat - menang!

Tanpa Joe sadari, tante Neneng sudah berdiri di mulut kamar. Memang tante punya kunci apartemen ini juga.

“Joe, waktuku tak banyak…”

Joe terkejut dengan kata-kata itu.

“Sesuatu telah terjadi. Aku harus meninggalkan Indonesia. Secepatnya.”

Air muka Joe seperti keledai dungu.

“Suamiku diincar KPK. Dalam beberapa jam ke depan kami mesti keluar. Infonya begitu.”

Joe masih tetap terdiam.

“Sini, come, honey…”

Tante meminta Joe mendekat padanya. Mereka berpelukan dan berciuman lama sambil memejamkan mata. Joe berusaha membawa tante ke tempat tidur. Ia butuh penyaluran karena efek obat biru sudah bekerja.

“Please stop, Joe… I have to go.” tante Neneng melepaskan ciuman mereka. “Aku ke sini hanya ingin bertemu denganmu untuk yang terakhir kali… kita tak akan pernah jumpa lagi.”

Dipandangi wanita yang air matanya mulai turun itu. Wanita yang selalu garang kini berubah menjadi melankolis.

“Joe, aku telah menyiapkan segalanya. Aku tinggalkan apartemen ini… juga Harrier-ku di basement untuk kamu miliki. Ini kuncinya, jaga baik-baik... kamu tahu kan mobil itu mobil kesayanganku?!”

Joe mengangguk.

“Semua surat-surat nanti lawyer-ku yang urus. Nanti jam sembilan dia akan datang kemari minta tanda tanganmu. Jadi malam ini kamu stay di sini ya!”

Joe melongo, bingung.

“Hei, kenapa kamu diam, Joe?”

Joe benar-benar membeku.

“Ok ya… aku pergi. Aku dah pesan taksi pulang.”

“Honey,” Joe meraih wajah Tante Neneng lalu mencium bibirnya lembut.

“Ini hampir lupa…” Tante Neneng menyerahkan amplop coklat besar dari Hermes coklatnya. “Ini kurasa cukup buat biaya kuliahmu hingga kelar.” katanya sambil tersenyum.

Joe menerima amplop itu dengan sedikit gemetar.

Tante mencium kening Joe lalu menuju ke pintu. Sebelum keluar, tante Neneng berkata dengan setengah berteriak karena ia tahu Joe masih di kamar terdiam. “I love you, Joe… aku ingin kamu jadi pria baik-baik. Bye...”

***

Sepuluh menit setelah kepergian tante Neneng, Joe masih berdiri mematung. Dia masih bingung dengan semua ini. Dicobanya menonton televisi untuk sedikit mengalihkan perhatian sambil menunggu kedatangan pengacara yang dijanjikan oleh tante.

Tepat jam 9 malam, bel kamar berbunyi. Joe segera membukanya. Bukan si tua O.C Kaligis yang ia dapati, melainkan seorang gadis cantik yang tersenyum manis sekali. Joe sudah pernah melihatnya, kalau tidak salah namanya adalah Dea Tunggaesti. Di televisi sudah banyak diberitakan kalau O.C Kaligis mempunyai tim pengacara gadis-gadis muda yang cantik-cantik, dan Dea ini adalah salah satunya.

"Emm, boleh saya masuk?" tanya Dea ramah melihat kebengongan Joe.

"Eh iya, iya. Silahkan. Maaf, saya tidak bermaksud..." Joe gelagapan, ini merupakan sebuah kejutan baginya.

"Iya, Nggak apa-apa." tetap tersenyum, Dea melangkah masuk.

Joe masih terpana saat melihat ke arah wanita muda itu. Dan dia makin shock saat melihat wajah cantik Dea yang begitu mempesona. Gila, cantik dan manis sekali!! Joe jadi seperti bertemu bidadari. Selain cantik, tubuh Dea juga sangat menggoda; begitu tinggi dan langsing, dengan ukuran pantat dan payudara di atas rata-rata. Seksi sekali. Joe begitu terpesona hingga tanpa sadar mulai mengejap-ngejap sendiri. Dia kesulitan untuk menelan ludahnya. Efek obat biru yang tadi sempat mereda kini perlahan bangkit kembali. Apalagi mereka cuma berdua di tempat sepi ini.

"Joe, kenapa kamu kejap-kejap seperti itu?" tanya Dea dengan nada heran.

"Oh, tidak kok. Mata saya memang lagi perih." sahut Joe gugup karena sudah dipergoki.

Dea terdiam. Pandangan dan ekspresinya bener-bener bikin Joe membeku. Perlahan kemudian wanita itu berjalan menjauh, lalu duduk di sofa yang terletak di ujung ruangan. Matanya tetap memperhatikan Joe. "Joe..." panggilnya tiba-tiba, nada suaranya berubah.

"Eh, iya?" Joe menyahut tak pasti.

”Kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan.” Nada suaranya kini lebih netral dan lembut.

Tidak menyahut, perlahan-lahan Joe berjalan mendekatinya. Dea duduk dengan menyilangkan kaki. Karena roknya pendek, lumayan terlihat juga belahan pahanya yang putih mulus. Joe memandangnya tanpa berkedip. "Iya, Dea, ada apa? Soal surat-surat ya?" tanyanya sambil tersenyum kaku. Joe sadar, pasti mukanya tidak karuan bentuknya.

Dea tersenyum dan menggeleng, ”Itu bisa diurus nanti. Sekarang... saya ingin kamu melakukan sesuatu untukku!”

Joe ikut tersenyum. ”Asal jangan yang aneh-aneh aja,” sahutnya.

Dea menatapnya tajam dan bertanya. "Ka-kamu... sudah pernah... bersenggama?"

GLEK!!! Joe membisu. Pertanyaan apaan itu?! Kalo ini mimpi, darimana mulainya? Mungkin dia cuma salah dengar, maka... "Maaf, bisa diulangi?!" Joe menyahut, berharap muncul pertanyaan yang berbeda.

"Saya tanya, apa kamu sudah pernah bersenggama?" kata Dea penuh kepastian.

GLEK!! Joe makin sulit menelan ludah. Ini beneran!! Lama ia terdiam, tak tahu harus menjawab apa. Dea yang bosan menunggu jadi bertanya lagi. ”Bagaimana?!” desak wanita cantik itu.

"Eh, saya..." Joe masih canggung untuk berterus terang.

"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau bilang. Saya hanya ingin tahu saja, soalnya bu Neneng pernah cerita soal ini."

Joe terdiam seperti patung, benar-benar tak menyangka kalau pertemuan ini akan berkembang seperti sekarang. Selama semenit, bahkan mungkin lebih, mereka terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Keduanya jadi benar-benar kikuk.

"Ehm, terus..." Joe memecah kesunyian. ”Kalau memang saya pernah melakukannya, kamu mau apa?” tantangnya. Mendadak sepasang mata Dea jadi terlihat indah sekali. Wanita itu tersenyum, manis sekali.

"Mendekatlah kemari, Joe!" kata Dea dengan lembut.

Joe mendekat. Karena Dea duduk dan dia berdiri, sekarang pinggulnya berada tepat di depan kepala wanita cantik itu. Penis Joe yang sudah menegang tampak menggembung keras di balik celana, Dea tersenyum saat melihatnya.

"Sudah bangun ya?" tanyanya menggoda, sambil mengangguk ia melanjutkan kata-katanya. "Coba buka, saya mau lihat."

Joe dengan agak canggung melakukannya, ia membuka resliting dan membiarkan kain penutup tubuhnya itu jatuh ke bawah. Karena tidak mengenakan celana dalam, 'sang adik' yang sudah berdiri tegak langsung meloncat keluar, terlihat segar dan begitu menggiurkan. Dea mendadak kelihatan bergairah sekali, ia tampak ingin memegangnya, tapi masih sedikit ragu. Wanita itu hanya memandanginya tanpa berkedip, seperti menilai ukuran dan bentuknya.

"Ohh... Lumayan besar juga ya! Aku jadi penasaran, apa bisa lebih besar lagi?"

Belum sempat Joe menjawab, tiba-tiba Dea dengan lembut melekatkan bibirnya di batang penis itu, membuat Joe langsung mengejang seperti disengat listrik ribuan volt. Dia sangat kaget, tapi sama sekali tidak menolak, apalagi saat Dea mulai menjilati dan menciumi ujungnya. Yang ada dia malah mengerang karena saking nikmatnya.

"Hush... tenang, Joe. Jangan keras-keras!" Dea tersenyum halus.

"I-Iya, ehh..." jawab Joe sekenanya saat Dea meneruskan mengecupi batang penisnya, mulai dari dekat zakar sampai ke ujung kepala. Perlahan-lahan jemarinya yang halus juga mulai memainkan kantung zakar dan meremas-meremas bola kembar yang ada di sana. Mulutnya pun mulai berpindah ke kepala penis Joe, dengan lembut Dea menghisap pelan sambil menjilat-menjilatkan lidahnya ke bagian yang mulai membasah tersebut.

"Mgghh... Mgghh... Mgghh..." Saking terangsangnya, Joe secara naluriah memegangi kepala Dea dan meremas-meremas rambutnya dengan gemas. Dea nampak cuek, kelihatannya dia sudah keasyikan dengan urusannya sendiri. Gadis itu semakin bergairah menjilat dan meremas-remas penis Joe, sampai-sampai Joe tidak bisa membedakan lagi penisnya basah karena air ludah Dea atau sperma pre-ejakulasinya yang sudah keluar sedikit-sedikit. Dia benar-benar terangsang, tapi berusaha keras ia tahan, Joe ingin melihat apa yang terjadi berikutnya. Dia tidak ingin pengalaman dengan tante Neneng tempo hari terulang kembali.

Saat itu Joe juga keenakan seperti sekarang, penisnya dikocok oleh tante sambil mereka berpelukan erat, sama-sama bugil. Tante Neneng menempelkan badannya yang hangat dan menggosok-gosokkan buah dadanya yang besar ke badan Joe. Rangsangannya yang luar biasa membuat Joe jadi tak tahan. Tanpa menunggu lama, langsung ia setubuhi istri pejabat itu. Untungnya tante Neneng sudah basah juga, jadi Joe mudah saja melakukannya.

Pompaan Joe yang nikmat membuat tante menggeliat kesana kemari karena saking terangsangnya. Namun baru beberapa kocokan, tante Neneng sudah orgasme sambil memeluknya erat-erat, padahal Joe sendiri belum apa-apa. Tapi melihat tante yang sudah lemas tak berdaya, membuat Joe jadi tak tega untuk meneruskan permainannya, jadi terpaksa ia mencabut penisnya dan mengocoknya sendiri. Joe mengeluarkan semua spermanya di dada Tante. Itulah jadinya, karena terburu-terburu, selesainya jadi nggak enak. Dan Joe tidak mau itu terjadi saat dia main bersama si cantik Dea Tunggaesti.

"Joe, kok melamun sih?!" suara merdu gadis itu menghentak kesadaran Joe. Dea menghentikan jilatannya dan mundur ke sofa. Tubuhnya kini berkeringat. Bajunya yang tipis membuat bagian dalam tubuhnya terlihat jelas. "Kamu bisa tahan lama juga ya..." katanya sambil tersenyum. "Suamiku aja baru bentar sudah muncrat kalau aku gituin." terangnya.

YA AMPUN!! Ternyata... pantesan dia aneh, baru ketemu sudah ngajak main. Ternyata Dea tidak puas dengan sang suami, sama seperti tante Neneng. Ini adalah kesempatan baginya. Sambil nyengir, Joe pelan-pelan merebahkan tubuh mendekati perempuan cantik itu. Dea tampak terdiam pasrah dan meringankan ekspresi tubuhnya. Perlahan-perlahan Joe melepas blus atasnya, lalu BH pinknya. Ternyata buah dadanya begitu indah, kedua putingnya yang mungil kemerahan sudah nampak mengeras tajam. Pasti Dea sudah benar-benar terangsang.

Joe meneruskan aksinya dengan melingkarkan tangan di pinggang Dea yang ramping, lalu dengan pelan dibukanya rok panjang gadis itu. Dia berusaha berbuat sesantai mungkin, biasanya wanita suka yang seperti itu. Joe sengaja bersabar sambil menanti respon dari Dea.

"Sekarang giliran kamu, Joe. Sebelumnya belum pernah ada yang boleh seperti ini kecuali suamiku. Tapi kamu spesial..." kembali senyuman lembut menghias di wajah cantiknya, Dea mendorong Joe agar berlutut di lantai.

Dalam posisi duduk, Joe mendekatkan pinggul gadis itu ke kepalanya. Ugh, terlihat vagina Dea yang sudah basah tersaji indah di depan wajahnya, warnanya merah menyala, dengan rambut-rambut halus yang tumbuh rapi di sekitarnya. Benda itu terlihat licin sekali, bahkan sedikit cairannya mulai mengalir di pangkal pahanya yang putih mulus.

”Lakukan, Joe. Jilati vaginaku!” Dea meminta sambil menggerak-gerakkan pinggulnya naik turun.

Joe yang mengerti kalau Dea sudah benar-benar terangsang, segera mendekatkan kepala dan mulai mengecup-mengecupnya ringan, dimulai dari bulu-bulu halus yang tumbuh di bagian atasnya, lalu turun ke belahannya yang sempit dan kenyal, dan terus berlanjut hingga ke lorongnya yang basah dan sudah memerah. Joe baru berhenti saat mulutnya mencapai bagian kelentit Dea, dengan lembut ia melumat dan menghisap-hisap daging imut itu sampai membuat Dea mendesah-desah sambil menjambak-jambak rambutnya.

"Ohh... Joe!!" desah gadis itu agak keras saat Joe menggigit kelentitnya, muka Dea sudah berpeluh keringat, sementara cairan kewanitaan sudah keluar semakin banyak di liang vaginanya, sepertinya dia sudah tak tahan lagi.

"Iya?" dengan polosnya Joe menjawab.

Dea lalu mundur perlahan dan kembali duduk di atas sofa, sejenak mereka berdua bertatapan. Dea duduk dengan kedua pahanya sedikit mengangkang, dia pasrah saja memamerkan liang kemaluannya yang telah membesar dan amat basah itu kepada Joe. Sementara Joe perlahan berdiri, dan ikut memamerkan penisnya yang sudah menegang sempurna pada perempuan cantik itu.

"Joe," bisik Dea sambil tersenyum mesra. "Ayo lakukan, aku sudah siap." Dia tertawa kecil lalu mulai merebahkan tubuh di sofa. Pinggulnya masih tetap terbuka lebar, tapi diposisikan menyamping, tepat menghadap ke arah dimana Joe berada. Dengan lembut ia memutar-mutarnya sambil salah satu tangan mengusap-usap lubang vaginanya naik turun.

Joe yang melihatnya jadi merinding, cepat ia mendekati perempuan cantik itu. "Akhirnya..." bisik Joe dalam hati. Dudukan di sofa tersebut memang cukup panjang sehingga cukup bagi Joe untuk berlutut disana. Perlahan ia mendekatkan penisnya ke arah vagina Dea yang sudah menganga pasrah.

Begitu bersentuhan, Dea tampak menarik napas pendek lalu mendesah pelan. "Ahh..." Dibiarkannya Joe terus mendesakkan penisnya, begitu sudah masuk seluruhnya, desahan Dea segera berubah menjadi jerit penuh kenikmatan, ”Aarrghh...” Apalagi saat Joe mulai menggerakkan pinggul untuk menggenjot tubuh sintalnya, Dea jadi makin kelojotan dan menjerit-jerit keenakan. "Ohh! Aghh... ohh, Joe... ohh... ohh... hhghh... hgghh..." desahnya seksi, makin menambah panas nafsu mereka berdua.

Joe terus memompa tubuhnya. Vagina Dea yang sudah cukup basah dan terbuka membuat dia gampang untuk melakukannya. Dea mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya memutar, sesuai dengan irama genjotan Joe. "Ohh… hhgghh..." tanpa sadar Joe jadi ikut mendesah karena saking nikmatnya.

Keringat mereka berdua sudah mengalir di sekujur badan, sementara gerakan-gerakan sensual menjadi semakin cepat dan semakin berirama. Buah dada Dea yang bulat besar ikut bergoyang seirama dengan gerakan itu. Joe segera memiringkan badannya sedikit agar tangannya bisa meremas-meremas daging kembar yang begitu menantang itu. Sambil terus menggenjot, Joe memijit dan memilin-milin putingnya bergantian, kiri dan kanan.

"Aahh... Joe! Kamu nakal... ohh... ohhgghh..." desah Dea semakin keras. Tubuhnya semakin kelojotan, begitu juga dengan empot ayam di liang vaginanya. Sepertinya dia sudah akan muncrat sebentar lagi.

Joe terus menggerakkan pinggulnya hingga tak lama kemudian, "Ohh... Joe! Aku sudah hampir sampai... ohh... ohh... hgghh..." nafas dan desahan Dea terdengar semakin memburu dan gerakannya pun mulai sedikit menghentak. Dan, "Aahh...!!!" dia pun orgasme sambil berteriak kecil dengan halusnya.

Joe bisa merasakan percikan sesuatu yang amat panas membasahi batang penisnya. Pinggul Dea terus menghentak-hentak sekeras mungkin, seolah ingin memeras semuanya sampai tetes terakhir. Tidak peduli, Joe terus menggerakkan tubuhnya, ia sendiri juga merasa sudah tak tahan.

Dea yang mengetahuinya segera berkata. "Joe, tolong... hh... hh... j-jangan dikeluarin di dalam, ya?" pintanya tanpa melihat.

"Hh... hh... iya," balas Joe sambil mendesah juga. Dengan cepat ia menarik batang penisnya, yang langsung ia kocok di atas tonjolan payudara Dea. Beberapa detik kemudian, Splorrtt... Clorrtt... Splooshh... spermanya berhamburan keluar banyak sekali. Payudara Dea jadi belepotan karenanya, beberapa bahkan ada yang mampir ke mulut dan hidung bangir perempuan cantik itu.

Dea dengan manja menerimanya, dan meratakan semua ke sekujur tubuh indahnya. ”Biar kulit makin kencang.” begitu dia berkata.

"Ugghh..." keluh Joe sambil mengeluarkan tetes-tetes spermanya yang terakhir. Dea mendekat dan melumat kontolnya dengan rakus, semua sisa-sisa sperma ia telan hingga bersih. Joe yang kehabisan tenaga segera merebahkan tubuh di atas badan molek Dea dengan cueknya. Dea dengan lembut melingkarkan tangan dan merangkulnya erat, dia mengijinkan Joe melepas lelah di atas gundukan buah dadanya yang empuk dan kenyal. Bibirnya sesekali mengecup kepala Joe.

Beberapa saat kemudian, tanpa perlu repot-repot untuk mengenakan pakaian, Dea bangkit untuk mengurus surat-surat bagi Joe. Sambil berbincang, tak henti Joe mengusap dan membelai tubuh mulus perempuan cantik itu.

”Sudah, Joe, nanti aku jadi pingin lagi.” ujar Dea sambil menepis tangannya.

”Memang kenapa, kan ada aku yang siap memuaskanmu sampai pagi.” jelas Joe tak mau kalah.

Tersenyum, Dea segera menyelesaikan urusan surat menyurat itu dengan cepat, dan langsung menindih tubuh Joe begitu semuanya sudah beres. ”Awas, jangan sampai kamu mengecewakan aku!” ancamnya pura-pura, sambil tangannya mulai menggenggam dan mengocoknya penis Joe cepat.

”Jangan panggil aku Joe kalau tidak bisa melakukannya!” Joe balas menerkamnya dan lekas menggumulinya untuk memulai ronde yang kedu.

_THE END_


Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Top